Berita, Nasional

[MENOHOK] Ucapan “Warga Desa Tak Pakai Dolar” Disorot, Petani dan Nelayan Bongkar Dampak Nyata Rupiah Rp17.783 terhadap Biaya Hidup dan Produksi

Repelita.id

26 May 2026 12:17 WIB

[MENOHOK] Ucapan “Warga Desa Tak Pakai Dolar” Disorot, Petani dan Nelayan Bongkar Dampak Nyata Rupiah Rp17.783 terhadap Biaya Hidup dan Produksi
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut warga desa tidak terpengaruh dolar menuai kritik keras dari berbagai kalangan petani dan nelayan.

Dalam acara peresmian Koperasi Desa Merah Putih di Jawa Timur pertengahan Mei lalu, Prabowo menyatakan ekonomi pedesaan tetap terjaga meski nilai tukar rupiah terus tertekan.

ADVERTISEMENT

“Mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar... yang pusing yang itu, yang suka ke luar negeri, hayo siapa ini?” ujar Prabowo saat itu.

Kini, kurs rupiah telah menyentuh angka Rp17.783 per dolar AS per Selasa (26/5/2026), menciptakan kekhawatiran nyata di sektor akar rumput.

Petani kentang di Dieng, Fahrur Irzan, menilai pandangan presiden tersebut kurang bijaksana karena dampak pelemahan mata uang pasti memicu efek domino bagi ekonomi lokal.

“Pemerintah jangan terlalu banyak mengambil kebijakan atau pernyataan populis ... [untuk] hanya sekedar menenangkan masyarakat,” katanya.

Irzan menambahkan, para petani saat ini harus menanggung biaya produksi yang melonjak seiring kenaikan harga pupuk, pestisida, hingga bahan bakar solar untuk irigasi.

Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya daya beli masyarakat kota yang berujung pada merosotnya permintaan hasil panen, sehingga petani kesulitan mencapai titik balik modal.

Ia juga menanggapi pernyataan Presiden Prabowo yang menganggap senyum Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai indikator stabilitas keuangan negara.

“Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja, enggak usah kau khawatir itu,” ujar Prabowo sebelum menyebut tentang dolar.

Menurut Irzan, kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik dan menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi di antara pelaku sektor pertanian.

Dampak serupa dirasakan oleh komunitas nelayan, seperti diungkapkan Nilawati dari Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) di Medan.

Ia menuturkan, biaya operasional melaut membengkak drastis akibat kenaikan harga bahan bakar dan plastik es untuk mengawetkan ikan tangkapan.

“Karena harga plastik naik, yang batu es itu, tadinya Rp1.000, sekarang harganya Rp2.000, pengeluaran bekal nelayan bertambah,” katanya.

“Harga jual kita masih standar, masih harga yang lama sebelum perang,” tambah Nilawati yang juga mengeluhkan melonjaknya harga sembako.

Pakar Agrobisnis Universitas Padjajaran, Dr. Eddy Renaldi, mengonfirmasi bahwa sektor pertanian dan perikanan memang sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar.

Ia menjelaskan bahwa ketergantungan impor pada bahan baku pupuk dan pestisida membuat biaya produksi petani secara otomatis terpengaruh oleh penguatan dolar.

“Nelayan yang paling sensitif, karena dia menangkap, bukan menanam,” ujar Eddy yang menekankan pentingnya kemandirian pangan nasional. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung