Berita, Timur Tengah

Menhan AS Hegseth Ancam Bom Iran Zaman Batu, Komandan IRGC: Hollywood Racuni Pikiranmu, Hanya Prajuritmu yang Ke Kuburan

Repelita.id

03 April 2026 22:50 WIB

Menhan AS Hegseth Ancam Bom Iran Zaman Batu, Komandan IRGC: Hollywood Racuni Pikiranmu, Hanya Prajuritmu yang Ke Kuburan
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan ancaman kontroversial yang mengguncang jagat maya dengan menyatakan akan membom Iran kembali ke zaman batu.

Pernyataan tersebut langsung menuai respons sengit dari panglima tertinggi angkatan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang tidak tinggal diam.

ADVERTISEMENT

Komandan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Sayyid Majid Mousavi, dengan tegas membalik ancaman tersebut dan mengirimkan peringatan yang mengerikan bagi Washington.

Hollywood telah meracuni pikiranmu, ujar Mousavi.

Ia kemudian melontarkan pernyataan yang menjadi pusat perhatian dunia bahwa satu-satunya yang bisa kau bawa adalah prajuritmu ke kuburan.

Pernyataan kontroversial ini pertama kali muncul dari akun media sosial Pete Hegseth di platform X dengan hanya menuliskan kalimat singkat namun bernada perang: kembali ke zaman batu.

Ancaman tersebut semakin menguat setelah Presiden Donald Trump dalam pidato primetime-nya di Gedung Putih secara eksplisit mengancam akan membom Iran kembali ke zaman batu dan menargetkan infrastruktur sipil Iran termasuk pembangkit listrik dan fasilitas minyak.

Trump bahkan memberikan tenggat waktu yang tegas bahwa Amerika akan menghantam mereka dengan sangat keras selama dua hingga tiga minggu ke depan.

Kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu ke tempat mereka berada, tegas Trump dalam pidatonya.

Menanggapi ancaman tersebut, Brigadir Jenderal Sayyid Majid Mousavi langsung mengirimkan cuitan balasan di X.

Ia tidak hanya membantah ancaman tersebut tetapi juga membalik narasi bahwa AS-lah yang justru akan menuai bencana.

Kaulah yang membawa prajuritmu ke kuburan, bukan Iran yang ingin kau seret kembali ke Zaman Batu, tulis Mousavi.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika perang biasa karena Mousavi menyentuh perbedaan mendasar antara kedua negara yaitu usia peradaban.

Ilusi Hollywood telah begitu meracuni pikiranmu sehingga dengan sejarahmu yang hanya 250 tahun kau mengancam peradaban yang berusia lebih dari 6.000 tahun, tambah Mousavi.

Poin ini menjadi senjata psikologis yang sangat kuat karena Iran dengan akar sejarahnya yang mencapai peradaban Persia kuno merasa memiliki legitimasi moral dan historis yang jauh lebih dalam.

Sindiran tentang ilusi Hollywood juga menjadi kritik pedas bahwa para pembuat kebijakan AS telah terpengaruh oleh narasi film-film fiksi ilmiah Hollywood yang menggambarkan kehancuran massal secara glamor.

Tidak hanya komandan militer, pernyataan keras juga datang dari perwakilan diplomatik Iran melalui Kedutaan Besar Iran di India.

Kami tidak akan digiring kembali ke Zaman Batu oleh pemboman kalian karena kami adalah bangsa dengan peradaban 7.000 tahun, tulis akun resmi Kedutaan Besar Iran di India.

Mereka juga membalikkan tuduhan dengan narasi bahwa kamulah yang telah membawa pembunuhan anak-anak dan kejahatan terhadap kemanusiaan dari Zaman Batu ke dunia modern.

Pernyataan ini merujuk pada berbagai serangan AS dan Israel yang dilaporkan menewaskan warga sipil, termasuk insiden pengeboman sekolah dasar Minab pada 28 Februari yang menewaskan 168 anak-anak.

Ancaman zaman batu dari Hegseth dan Trump bukanlah hiperbola belaka karena dalam praktiknya serangan udara besar-besaran yang menargetkan infrastruktur kelistrikan dan energi memang dapat melumpuhkan suatu negara.

Data terbaru menunjukkan bahwa AS dan Israel telah melancarkan serangan terhadap Jembatan B1 yang menghubungkan Teheran dengan kota Karaj.

Serangan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya delapan warga sipil dan melukai 95 lainnya.

Di sisi lain IRGC juga telah mengancam akan menyerang 18 perusahaan teknologi besar Amerika yang beroperasi di kawasan Teluk.

Perusahaan-perusahaan ini harus mengharapkan kehancuran unit mereka masing-masing sebagai imbalan atas setiap aksi teror di Iran, demikian pernyataan resmi IRGC.

Pertukaran ancaman ini terjadi di tengah perang besar yang telah memasuki hari ke-34 sejak dimulai pada 28 Februari lalu.

Konflik yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel ini telah menyebar ke seluruh kawasan, melibatkan pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, UEA, dan Arab Saudi.

Dampak kemanusiaan dari konflik ini sangat mengerikan dengan IRGC menuduh AS dan Israel melakukan kejahatan perang dengan menargetkan fasilitas sipil.

Salah satu insiden paling tragis adalah serangan rudal Tomahawk AS ke sebuah sekolah dasar perempuan di Minab pada hari pertama perang yang menewaskan 168 anak-anak.

Selain itu serangan juga menghancurkan Pusat Penelitian Pasteur Iran di Teheran, sebuah fasilitas kesehatan masyarakat utama.

Di sektor industri, Pabrik Baja Mobarakeh di Provinsi Isfahan telah berhenti beroperasi akibat kerusakan parah dari serangan bertubi-tubi.

Sebagai balasan, Iran telah melancarkan hampir 90 gelombang serangan balasan termasuk rudal balistik dan hipersonik.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres kembali menyerukan penghentian perang dengan pesan yang jelas kepada semua pihak.

Pesan saya jelas, kepada Amerika Serikat dan Israel sudah saatnya menghentikan perang yang menimbulkan penderitaan manusia yang sangat besar, ujar Guterres.

Kepada Iran, hentikan serangan terhadap tetangga-tetanggamu, tambah Sekjen PBB tersebut.

China juga kembali mendesak semua pihak yang terlibat untuk segera menghentikan operasi militer dan memulai proses perundingan perdamaian sesegera mungkin.

Sementara itu PBB memperingatkan bahwa kenaikan 20 persen harga pangan global akibat konflik ini dapat mendorong 5 juta orang tambahan ke dalam kerawanan pangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung