Repelita Washington DC - Mantan Kepala Strategi Presiden Amerika Serikat Steve Bannon melontarkan pernyataan kontroversial dengan secara terbuka mendesak agar Yair Netanyahu, putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, diturunkan ke garis depan jika terjadi invasi darat melawan Iran.
“Pakaikan seragam padanya dan libatkan di gelombang pertama,” ujar Bannon dalam siniar War Room pada Selasa (31/3/2026).
ADVERTISEMENT
Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan publik karena menyangkut keterlibatan keluarga pemimpin dalam konflik bersenjata di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Desakan Bannon juga berkaitan dengan kritik terhadap keberadaan Yair Netanyahu yang dilaporkan lebih sering berada di luar Israel sejak konflik meningkat pada Oktober 2023, termasuk sempat tinggal di Miami bersama ibunya.
Bannon menilai bahwa dalam kondisi konflik, seluruh elemen masyarakat termasuk keluarga elite politik seharusnya ikut menanggung beban yang sama.
Menurut Bannon, keterlibatan langsung dari kalangan elite dapat menjadi simbol tanggung jawab moral sekaligus memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah di mata publik.
Sebaliknya, ketidakhadiran mereka berpotensi memicu kritik bahwa beban konflik hanya ditanggung oleh warga biasa.
Tak hanya menyoroti Israel, Bannon juga mengkritik negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dengan meminta agar para elite dan bangsawan di negara-negara tersebut turut ambil bagian dalam operasi militer.
Ia menegaskan bahwa beban konflik tidak seharusnya hanya ditanggung oleh Amerika Serikat sementara sekutu lainnya berada di luar garis depan.
Yair Netanyahu yang lahir pada 26 Juli 1991 dikenal sebagai putra sulung Benjamin Netanyahu dan figur publik yang cukup berpengaruh dalam dinamika politik Israel meskipun tidak memegang jabatan resmi di pemerintahan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok