Repelita Bandung - Menurut pengamatan M Rizal Fadillah, efektivitas penempatan Jumhur Hidayat yang dikenal sebagai Ketua Serikat Buruh ke kursi Menteri Lingkungan Hidup oleh Prabowo patut diragukan karena bidang yang selama ini digeluti Jumhur tidak memiliki kaitan langsung dengan portofolio kementerian tersebut.
M Rizal Fadillah menilai apologi bahwa Jumhur sengaja ditempatkan di kementerian ini untuk menghadapi oligarki sekilas terdengar mulia dalam dimensi perjuangan, namun justru rawan terhadap praktik suap karena kewenangan penerbitan perizinan dan rekomendasi penindakan berada sepenuhnya di tangannya.
ADVERTISEMENT
Menurut M Rizal Fadillah, pertanyaan besarnya adalah mampukah Jumhur mengatasi godaan sistemik tersebut atau justru ia akan rentan terlibat, mengingat perlawanan terhadap oligarki merupakan pekerjaan besar dan terstruktur yang tidak bisa dilakukan secara parsial hanya mengandalkan satu departemen.
M Rizal Fadillah menyatakan wajar jika rakyat masih meragukan kapasitas Jumhur meskipun rekan sejawatnya memuji kualitasnya setara sepuluh menteri, karena semangat merubah dari dalam seringkali faktanya justru membuat sang pelaku sendiri yang berubah oleh sistem.
M Rizal Fadillah mengingatkan bahwa harapan besar pernah disandangkan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang digadang-gadang akan membabat oligarki dan membangun ekonomi kerakyatan, namun pada kenyataannya ia melempem dan tak mampu melawan sistem yang korup, manipulatif, serta kapitalistik.
M Rizal Fadillah menegaskan Jumhur Hidayat bahkan belum setara dengan kapasitas Purbaya, apalagi menempati posisi yang membutuhkan orientasi terlebih dahulu sehingga sebaiknya publik tidak terlalu membebaninya dengan angan-angan muluk.
M Rizal Fadillah berpendapat di bawah rezim Prabowo, semua menteri cari aman dan ingin nyaman karena kabinet secara kolektif dinilai buruk, dengan ancaman pergeseran bagi mereka yang berkinerja tidak bagus masih sebatas omon-omon belaka.
M Rizal Fadillah mencermati pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 2025 lalu, Jumhur tampil gelisah dan terkejut ketika buruh menjawab "tidaak.." terhadap pertanyaan Prabowo mengenai manfaat program MBG, begitu pula saat Prabowo hendak memperkenalkan Seskabnya dan disambut soraki para buruh.
M Rizal Fadillah menyoroti bahwa Prabowo sempat salah tafsir dengan mengira gemuruh itu adalah kekaguman pada Teddy sebagai pesaing, sehingga ia pun nyeletuk "Gue Presiden, bukan die" tanpa menyadari bahwa itu sebenarnya cemoohan atas diri Teddy yang terkait dengan dirinya.
M Rizal Fadillah mengucapkan "Wilujeng ngemban amanah, kang Jumhur, mugia mangpaat" sebagai teman seperjuangan, dengan harapan semoga Jumhur tidak menjadi kain yang segera tercelup oleh warna rezim yang korup, ambivalen, dan selalu omong besar tentang kesiapan berkorban demi rakyat.
M Rizal Fadillah mengingatkan agar semua pihak waspada dan bersiap jika rakyat sudah berani meneriakkan "tidaaak…!"(*)
Editor: 91224 R-ID Elok