Berita, Timur Tengah

Listrik Teheran Padam Total Akibat Serangan AS-Israel, Iran Sebut Infrastruktur Nasional Jadi Sasaran

Repelita.id

30 March 2026 14:45 WIB

Listrik Teheran Padam Total Akibat Serangan AS-Israel, Iran Sebut Infrastruktur Nasional Jadi Sasaran
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Kementerian Energi Iran mengumumkan bahwa ibu kota Teheran bersama sejumlah provinsi di bagian utara negara itu mengalami pemadaman listrik skala besar pada Ahad (30/3/2026) akibat serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur kelistrikan nasional.

“Beberapa menit lalu, akibat serangan AS dan Israel terhadap pembangkit listrik di Provinsi Teheran serta sejumlah distrik di Teheran dan Provinsi Alborz, listrik terputus. Tim teknis Kementerian Energi sedang berupaya mengatasi masalah ini,” demikian pernyataan resmi kementerian tersebut sebagaimana dilaporkan oleh Nour News.

ADVERTISEMENT

Wakil Menteri Energi Iran Mostafa Mashhadi mengungkapkan bahwa pecahan proyektil menghantam salah satu menara listrik tegangan tinggi di pintu masuk kota Karaj, Provinsi Alborz, yang menjadi penyebab utama terganggunya aliran listrik di wilayah tersebut.

Selain menara listrik, serangan tersebut juga merusak gardu induk di wilayah Dowshan Tappeh yang berdampak pada pemadaman listrik di sejumlah distrik di Teheran dan Karaj, dua kota terbesar di utara Iran.

Israel melaporkan telah melancarkan lebih dari 140 serangan udara di wilayah tengah dan barat Iran dalam kurun waktu 24 jam terakhir, dengan target berupa lokasi peluncuran rudal, fasilitas penyimpanan amunisi, serta posisi-posisi militer strategis milik Iran.

Serangan udara tersebut juga meluas ke luar wilayah Iran, dengan bukti adanya serangan yang menghantam lokasi Pasukan Mobilisasi Populer di kota Mosul dan Tuz Khurmatu di Irak, memperluas cakupan konflik di kawasan.

Sebuah universitas di kota Isfahan melaporkan bahwa institusi pendidikan tersebut menjadi sasaran serangan AS-Israel untuk kedua kalinya pada akhir pekan ini, menandakan bahwa fasilitas sipil juga tidak luput dari target operasi militer.

Di tengah eskalasi serangan udara, pasukan Amerika Serikat disebut tengah melakukan persiapan intensif untuk kemungkinan intervensi darat di Iran, dengan Pentagon dikabarkan telah mempertimbangkan pengamanan lokasi-lokasi strategis seperti pusat minyak Pulau Kharg dan berbagai fasilitas militer penting.

Kepala Komando Pusat AS Laksamana Brad Cooper dilaporkan telah bertemu dengan Kepala Staf militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir bersama sejumlah jenderal senior Israel lainnya untuk membahas strategi konflik dan upaya bersama menghentikan produksi senjata Iran.

Israel pada hari yang sama mengonfirmasi bahwa sebuah pabrik industri di dekat kota Beer Sheva di gurun Negev terkena rudal atau puing-puing serangan, yang memicu peringatan dini terkait keberadaan bahan berbahaya di lokasi tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kompleks industri Neot Hovav di Israel selatan, dengan rekaman yang diverifikasi menunjukkan asap hitam tebal mengepul dari lokasi yang menampung lebih dari 30 pabrik tersebut.

Dinas pemadam kebakaran dan penyelamatan Israel menyatakan bahwa petugas bekerja keras untuk mencegah ledakan atau kebocoran tambahan, sambil memperingatkan masyarakat untuk tidak mendekati area karena adanya bahan berbahaya yang masih berada di lokasi.

Warga di sekitar kawasan kompleks industri diimbau untuk mengunci diri di dalam rumah, menutup seluruh jendela dan ventilasi, meskipun dinas tersebut menegaskan bahwa insiden terbatas di dalam batas zona industri dan tidak menimbulkan bahaya bagi warga yang berada di luar radius 800 meter.

Kawasan Teluk juga mengalami peningkatan serangan dengan Kementerian Pertahanan Kuwait melaporkan keberadaan 14 rudal balistik dan 12 drone di wilayah udaranya yang mengakibatkan sepuluh personel militer terluka di sebuah kamp militer.

Qatar berhasil mencegat sejumlah drone Iran sehingga tidak menimbulkan korban jiwa, sementara Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengklaim sistem pertahanannya berhasil mencegat 16 rudal balistik dan 42 drone.

Emirates Global Aluminium mengonfirmasi adanya kerusakan signifikan di salah satu lokasinya di Abu Dhabi dengan enam karyawan mengalami luka-luka, sementara Aluminium Bahrain melaporkan dua anggota staf mengalami cedera ringan akibat serangan.

Konflik berskala besar ini bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran termasuk di Teheran yang menyebabkan kerusakan luas dan menewaskan warga sipil, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung