Berita, Timur Tengah

Lebanon Selatan Panas, 37 Tentara Israel Luka-Luka di Lebanon Selatan dalam 24 Jam, Satu Tewas Akibat Ledakan Ranjau

Repelita.id

20 April 2026 16:45 WIB

Lebanon Selatan Panas, 37 Tentara Israel Luka-Luka di Lebanon Selatan dalam 24 Jam, Satu Tewas Akibat Ledakan Ranjau
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dalam eskalasi terbaru yang kian mengerikan di kawasan Timur Tengah, sebanyak 37 tentara Israel dilaporkan mengalami luka-luka di Lebanon selatan hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Satu tentara lainnya dikonfirmasi tewas dalam insiden terpisah yang terjadi di wilayah perbatasan yang sama.

ADVERTISEMENT

Korban jiwa ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas serangan balasan yang dilancarkan secara bertubi-tubi oleh kelompok pejuang Hizbullah.

Seperti dilaporkan oleh sumber-sumber media Ibrani, jumlah korban luka-luka ini menjadikan hari tersebut sebagai salah satu periode paling berdarah bagi pasukan Israel.

Sejak dimulainya kembali operasi darat di Lebanon pada awal Maret lalu, belum pernah terjadi lonjakan korban yang begitu signifikan dalam waktu singkat.

Angka ini bahkan belum termasuk satu tentara cadangan yang tewas akibat ledakan ranjau darat milik Hizbullah di daerah Kafr Kila.

Insiden mematikan ini terjadi saat front utara Israel, yaitu perbatasan dengan Lebanon, semakin sulit dikendalikan oleh militer Zionis.

Berbeda dengan front Gaza yang didominasi oleh serangan udara jarak jauh, pertempuran di Lebanon selatan kini berlangsung secara jarak dekat.

Pertempuran house to house yang penuh dengan jebakan dan ranjau menjadi ciri khas dari konflik di front utara ini.

Sebelum laporan tentang 37 korban luka ini mencuat ke publik, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) lebih dulu mengumumkan kematian seorang tentara cadangan pada Ahad, 19 April 2026.

Ia adalah Sersan Kelas Satu (Cadangan) Lidor Porat, 31 tahun, seorang warga dari kota Ashdod yang bertugas di Batalyon 7106, Brigade Regional 769.

Porat tewas dalam ledakan besar yang terjadi saat unitnya sedang beroperasi di daerah Kafr Kila, Lebanon selatan.

“Dalam insiden di mana Sersan Kelas Satu (Cadangan) Lidor Porat tewas, satu tentara lainnya mengalami luka berat, empat tentara luka sedang, dan empat tentara lainnya luka ringan,” demikian pernyataan resmi yang dirilis oleh IDF.

Army Radio Israel melaporkan bahwa penyebab ledakan adalah sebuah kendaraan lapis baja D-9 military bulldozer yang secara tidak sengaja menabrak bahan peledak milik Hizbullah.

Insiden ini memicu kekhawatiran akan adanya pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang selama ini berjalan rapuh.

IDF saat ini sedang menyelidiki secara intensif kapan tepatnya bahan peledak tersebut ditempatkan di lokasi kejadian.

Penyelidikan juga akan menentukan apakah penempatan bom itu merupakan pelanggaran terselubung yang dilakukan oleh Hizbullah.

Di sisi lain, kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, dengan lantang mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan yang terjadi secara simultan.

Menurut pernyataan yang dirilis Kamis (9/4) lalu, Hizbullah melakukan setidaknya empat serangan besar dalam waktu yang sangat singkat.

Kelompok itu mengatakan bahwa mereka menembakkan roket ke pemukiman Manara dan Kiryat Shmona yang berada di wilayah Israel utara.

Tidak hanya itu, mereka juga mengklaim berhasil menghantam kendaraan militer Israel dengan rudal terpandu di kota Taybeh, Lebanon selatan.

Bahkan, Hizbullah mengaku menggunakan pesawat nirawak atau drone untuk menyerang pasukan Israel di area yang sama.

Mereka menegaskan bahwa semua serangan ini adalah aksi balasan yang sah atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh Israel.

Perang yang dipicu oleh serangan lintas batas Hizbullah pada 2 Maret lalu ini telah menimbulkan bencana kemanusiaan yang sangat besar di Lebanon.

Kementerian Kesehatan Lebanon merilis data terbaru yang sangat mencengangkan dan memilukan.

Hingga Jumat (10/4), jumlah korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai 1.953 orang, dengan 6.303 lainnya menderita luka-luka.

Angka ini melonjak drastis hanya dalam hitungan hari sejak konflik memasuki fase baru.

Sumber lain, seperti L'Orient Today pada 16 April, menyebutkan angka sementara mencapai 2.294 tewas dan 7.544 luka-luka.

Sekitar 100 petugas penyelamat dan tenaga kesehatan turut menjadi korban dalam menjalankan tugas kemanusiaan mereka.

Kementerian Kesehatan Lebanon memperingatkan bahwa angka ini masih bersifat sementara dan bisa bertambah.

Banyak jenazah yang masih tertimbun reruntuhan bangunan dan memerlukan tes DNA untuk proses identifikasi.

Eskalasi di Lebanon ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika perang besar yang sedang terjadi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Perang ini secara resmi dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke target-target strategis di Iran.

Serangan tersebut menewaskan lebih dari 3.000 orang dan memicu reaksi berantai di seluruh Poros Perlawanan yang dipimpin Iran.

Hizbullah membuka front pendukung di Lebanon selatan pada 2 Maret, tepat sehari setelah serangan besar ke Iran dilancarkan.

Tujuan mereka adalah untuk membagi kekuatan militer Israel dan mencegah Israel berkonsentrasi penuh melawan Iran.

Saat ini, meskipun ada negosiasi gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran yang dimulai 8 April, front Lebanon justru menunjukkan eskalasi.

Bahkan Menteri Kesehatan Lebanon mengkonfirmasi bahwa serangan Israel justru meningkat pada 8 April.

Hari yang sama ketika gencatan senjata AS-Iran diumumkan, serangan Israel menewaskan 357 orang dalam sehari di Lebanon.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perjanjian damai di satu meja perundingan tidak serta merta menghentikan pertumpahan darah di meja lain.

Dengan Hizbullah yang masih memiliki ribuan roket dan Israel yang terus mengirim bala bantuan ke utara, front Lebanon selatan berpotensi menjadi medan perang baru yang jauh lebih dahsyat daripada Gaza.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung