Berita, Nasional

Laode M Syarif Sentil Rocky Gerung Yang Sebut Konsisten Cerdas Mahal Berujung Dungu

Repelita.id

14 September 2026 20:25 WIB

Laode M Syarif Sentil Rocky Gerung Yang Sebut Konsisten Cerdas Mahal Berujung Dungu
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ruang publik maya di tanah air kembali dihebohkan oleh adu argumen tajam antar tokoh nasional menyusul perdebatan sengit mengenai batas keterlibatan institusi militer dalam sektor pertanian.

Sentilan pedas kali ini dilayangkan oleh mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Laode M Syarif, yang secara terbuka menyindir pengamat politik terkemuka, Rocky Gerung.

ADVERTISEMENT

Kritik tajam tersebut bermula setelah Laode mencermati jalannya diskusi terbuka antara Rocky dengan pakar hukum tata negara, Feri Amsari, yang membahas isu penanaman jagung oleh prajurit tentara nasional.

Melalui unggahan pada akun media sosial pribadi miliknya yang dibagikan pada hari Senin, 14 September 2026, Laode melontarkan komentar menohok terkait konsistensi berpikir sang pengamat.

"Konsisten cerdas itu….ternyata mahal …. akhirnya jadi ‘dungu’ juga MAAF," tulis Laode dalam cuitan yang langsung menyedot perhatian netizen.

Perdebatan panas di antara para akademisi tersebut menyoroti fenomena pelibatan prajurit militer dalam program ketahanan pangan nasional yang memicu pro dan kontra di tengah masyarakat sipil.

Dalam argumennya, Rocky Gerung secara mengejutkan melontarkan pembelaan dengan menyebut keterlibatan prajurit dalam aktivitas agraris sebagai langkah agar mereka tidak lagi bersinggungan dengan persenjataan.

"Kalau kita takut militerisasi, biarkan tentara nanem jagung, supaya dia sibuk cari bibit lupa cari mesiu, lupa memanggul senjata," ujar Rocky dalam perdebatan itu.

Ia bahkan sempat melontarkan istilah khusus bernada satir untuk menggambarkan kondisi institusi pertahanan yang sibuk mengurusi sektor agrikultur di tengah masyarakat.

Pandangan tersebut langsung mendapat perlawanan sengit dari Feri Amsari yang menilai alur logika sang pengamat mengalami sesatan berpikir atau kesesatan penalaran yang cukup fatal.

Feri menegaskan bahwa mandat utama institusi militer adalah menjaga kedaulatan negara, sehingga pengerahan prajurit di luar fungsi pertahanan mendasar harus diuji secara ketat dari sudut pandang tata kelola konstitusi.

"Tapi itu logica fallacy, karena tugasnya kan menjaga pertahanan," kata Feri menyanggah argumen tersebut secara tegas.

Lebih lanjut, ahli hukum tata negara itu juga mempertanyakan potensi risiko sosial ketika aparat bersenjata diterjunkan langsung ke tengah masyarakat sipil untuk mengurus urusan bercocok tanam.

"Orang yang bekerja untuk pertahanan abang dayagunakan jadi petani. Cerita aneh, masa tentara tidak bisa memanggul senjata karena sibuk menanam jagung," ujar Feri.

Diskusi mendalam itu kemudian merembet pada arah pandangan politik sang pengamat terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai mengalami pergeseran haluan penalaran.

Feri menilai cara pandang kritis yang biasanya tajam mendadak melunak ketika topik perbincangan menyentuh lingkaran kekuasaan tertinggi di bawah kepemimpinan saat ini.

"Menurut saya, abang menyalahi logika utama tentang susunan fondasi bernegara, abang kalau cerita soal Prabowo logikanya tiba-tiba jadi kacau begini," kata Feri.

Pernyataan menohok dari sang pakar hukum tata negara inilah yang diyakini menjadi pemicu utama lahirnya sindiran terbuka dari Laode M Syarif di dunia maya.

Meskipun tidak merinci bagian spesifik dari argumentasi yang dipersoalkan, sindiran tersebut mencerminkan kekecewaan publik terhadap pergeseran sikap para tokoh intelektual dalam mengawal kebijakan negara.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung