Repelita Washington DC - Langkah yang dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam memutuskan perang melawan Iran ternyata salah besar, dengan sejumlah analis dan laporan media internasional menyebut bahwa keputusan tersebut telah menjadi bencana total bagi pemerintahannya.
Menurut laporan Axios pada 16 Maret 2026, para penasihat senior Trump bahkan mengalami "buyer's remorse" atau penyesalan atas keputusan perang tersebut karena ternyata mereka meremehkan ketahanan Iran dan dampak penutupan Selat Hormuz terhadap ekonomi global.
ADVERTISEMENT
Situs Middle East Eye dalam laporannya pada 29 Maret 2026 menulis bahwa sulit menggambarkan tingkat kesalahan strategis Trump dalam perang dengan Iran, di mana konflik ini telah membuat Tehran lebih keras kepala, memperburuk ketidakstabilan global, dan menghancurkan basis pendukung Trump sendiri.
Salah satu kesalahan terbesar Trump adalah meremehkan kemampuan Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, yang kini telah menyebabkan krisis energi global terbesar dalam sejarah.
Seorang pejabat senior administrasi AS mengakui kepada Axios bahwa Iran menutup selat tersebut membuat Trump semakin "terjebak dalam eskalasi" dan bukannya melakukan penilaian ulang terhadap strategi perangnya.
Kesalahan lain yang dibuat Trump adalah asumsi keliru bahwa rakyat Iran akan bangkit melawan rezim begitu perang dimulai, padahal fakta menunjukkan sebaliknya karena serangan Israel justru membuat warga Iran bersatu di belakang pemerintahannya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang diangkat Trump juga dikritik karena tidak memiliki latar belakang operasional yang memadai untuk menangani perang sekompleks ini, sehingga perencanaan strategis menjadi sangat lemah.
Trump juga gagal mengantisipasi reaksi sekutu-sekutu Amerika, di mana negara-negara Eropa seperti Spanyol justru menolak permintaan AS untuk membantu mengamankan Selat Hormuz dan bahkan menutup wilayah udara mereka bagi pesawat tempur AS.
Penulis kolom Thomas O. Falk dalam analisisnya untuk CGTN pada 19 Maret 2026 menilai bahwa pemerintahan Trump telah memprioritaskan loyalitas pribadi di atas keahlian, dan akibatnya kualitas pengambilan keputusan menjadi sangat menurun.
The New York Times melaporkan pada 21 Maret 2026 bahwa Trump terjebak dalam kontradiksi: di satu sisi ia ingin mengakhiri perang, tetapi di sisi lain ia terus mengancam eskalasi lebih lanjut karena merasa terpaksa menunjukkan superioritas Amerika.
Para analis juga menyoroti bahwa Trump salah membaca situasi domestik Amerika, di mana perang ini justru sangat tidak populer dan dapat mengancam posisi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu November mendatang.
Dengan Selat Hormuz yang masih tertutup, harga minyak melonjak, dan tidak ada rencana keluar yang jelas, kesimpulan para pengamat makin menguat bahwa langkah Trump dalam perang ini adalah sebuah kesalahan strategis yang sangat mahal.
Yang lebih memalukan bagi Washington adalah fakta bahwa Iran justru diuntungkan secara ekonomi dari perang ini karena harga minyak yang melambung sementara ekspor minyak Iran tetap berjalan.
Ali Sattari dalam analisisnya di Pars Today pada 30 Maret 2026 menyebut bahwa Selat Hormuz kini telah menjadi "kuburan kredibilitas Amerika" bahkan di mata sekutu-sekutunya sendiri.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok