Berita, Timur Tengah

Langkah nekat Donald Trump, kini incar uranium Iran, siap lakukan operasi militer besar-besaran

Repelita.id

31 March 2026 13:57 WIB

Langkah nekat Donald Trump, kini incar uranium Iran, siap lakukan operasi militer besar-besaran
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan langkah mengejutkan di tengah memanasnya ketegangan dengan Iran dengan mempertimbangkan operasi militer besar-besaran untuk merebut cadangan uranium strategis milik Teheran.

Rencana ini bukan sekadar manuver biasa melainkan operasi berisiko tinggi yang dapat melibatkan pasukan darat Amerika langsung di wilayah musuh.

ADVERTISEMENT

Target utama dari operasi ini disebut berada di fasilitas nuklir penting seperti Isfahan dan Natanz yang selama ini menjadi pusat pengayaan uranium Iran.

Trump sendiri menegaskan bahwa Iran harus menyerahkan uranium tersebut jika ingin menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.

Pentagon dilaporkan mulai menyiapkan berbagai skenario termasuk pengerahan ribuan pasukan tambahan dan operasi khusus lintas udara di tengah ketegangan yang kian meningkat.

Jika benar dilaksanakan, operasi ini berpotensi memicu perang terbuka dengan dampak global yang sangat besar termasuk pada ekonomi dunia.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal pada Minggu (29/3/2026), Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi militer skala besar untuk menyita hampir 1.000 pon atau sekitar 450 kilogram uranium dari Iran.

Misi ini dinilai sangat kompleks dan berisiko tinggi karena akan menempatkan pasukan Amerika Serikat di dalam wilayah Iran selama beberapa hari atau lebih.

Sejumlah pejabat AS menyatakan meskipun Trump belum mengambil keputusan final, dia tetap membuka peluang bagi operasi tersebut yang sejalan dengan tujuan utamanya memastikan Iran tidak akan pernah bisa memproduksi senjata nuklir.

Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan pada Minggu malam, Trump menegaskan bahwa Iran harus mengikuti tuntutan Amerika Serikat.

"Mereka akan memberikan debu nuklir itu kepada kita," ujar Trump merujuk pada cadangan uranium Iran.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa militer saat ini hanya menjalankan tugas prosedural untuk menyiapkan segala kemungkinan.

"Adalah tugas Pentagon untuk melakukan persiapan guna memberikan pilihan maksimal kepada panglima tertinggi. Itu tidak berarti presiden telah membuat keputusan," kata Leavitt dalam sebuah pernyataan resmi.

Para ahli dan mantan perwira militer AS memperingatkan bahwa menyita uranium dengan kekuatan fisik akan menjadi salah satu operasi paling menantang bagi pemerintahan Trump.

Misi ini diprediksi dapat memicu pembalasan dari Iran dan memperpanjang durasi perang melampaui target 4 hingga 6 minggu yang direncanakan tim Trump.

Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi meyakini uranium tersebut disimpan di dua lokasi utama yakni sebuah terowongan bawah tanah di kompleks nuklir Isfahan dan sebuah gudang di Natanz.

Menurut Richard Nephew, pakar nuklir dari Columbia University, uranium yang diperkaya tersebut kemungkinan disimpan dalam 40 hingga 50 silinder khusus yang menyerupai tabung selam.

"Materi itu harus dimasukkan ke dalam peti pengangkut untuk melindungi dari kecelakaan. Itu bisa memenuhi beberapa truk," jelas Nephew.

Mantan komandan Komando Pusat AS atau Central Command (Centcom) Jenderal Purnawirawan Joseph Votel menuturkan bahwa operasi ini tidak bisa dilakukan secara instan.

"Ini bukan jenis operasi yang bisa dilakukan dengan cepat, masuk lalu keluar begitu saja," tegas Votel.

Di tengah rencana operasi militer, Trump juga dilaporkan mendesak para tangan kanannya agar menekan Iran supaya menyerahkan uranium tersebut sebagai syarat berakhirnya perang.

Hingga saat ini, Pakistan, Turkiye, dan Mesir telah bertindak sebagai perantara namun Washington dan Teheran belum melakukan negosiasi langsung.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio pekan lalu menyatakan harapannya bahwa tujuan utama AS dapat tercapai tanpa melibatkan pasukan darat.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengisyaratkan bahwa opsi militer tetap ada di atas meja jika diplomasi buntu.

"Presiden terus memfokuskan pandangannya pada kemampuan nuklir," kata Hegseth pada 13 Maret lalu.

"Kami memiliki berbagai opsi, termasuk jika Iran memutuskan untuk menyerahkan materi tersebut, yang tentu saja akan kami sambut baik," lanjutnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung