Berita, Nasional

Lagu Plesetan Kritik Ekonomi Kembali Menggema di Aksi Mahasiswa, Hensa: Pemerintah Jangan Anggap Remeh Pesan Rakyat

Repelita.id

22 June 2026 18:54 WIB

Lagu Plesetan Kritik Ekonomi Kembali Menggema di Aksi Mahasiswa, Hensa: Pemerintah Jangan Anggap Remeh Pesan Rakyat
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat politik Hendri Satrio mendesak pemerintah untuk meningkatkan kepekaan terhadap berbagai bentuk aspirasi yang disuarakan publik, termasuk melalui ekspresi simbolik di ruang terbuka.

Menurut pria yang akrab disapa Hensa ini, pemerintah harus menaruh perhatian serius terhadap munculnya kembali lagu plesetan berjudul Naik-naik ke Puncak Gunung dalam sejumlah aksi demonstrasi mahasiswa.

ADVERTISEMENT

Lirik gubahan tersebut dinilai membawa pesan keresahan kolektif masyarakat mengenai kenaikan harga komoditas pangan hingga biaya energi.

“Ada syair lagu yang dipopulerkan oleh seorang pemimpin agama ternama yang sayup-sayup mulai kembali terdengar, terakhir di demo Mahasiswa belakangan ini, menurut saya pemerintah harus menangkap ini sebagai sinyal bahwa masyarakat mulai merasa ekonomi saat ini semakin menekan mereka,” ujar Hensa.

Lagu tersebut sebelumnya mencuat pada tahun 2017 dan kini kembali digaungkan sebagai kritik terhadap kondisi ekonomi yang dirasa semakin berat.

"Naik, naik, BBM naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, pajak pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, listrik pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Naik, naik, cabai pun naik. Tinggi, tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara. Kiri-kanan kulihat saja banyak rakyat sengsara," demikian bunyi lirik lagu tersebut.

Hensa menekankan bahwa penguasa tidak boleh memandang sebelah mata pesan yang terkandung dalam syair tersebut karena mencerminkan realita kehidupan rakyat.

“Penguasa, pemerintah, gak boleh menganggap remeh isi pesan yang ada di syair itu, karena mereka mengucapkan tentang kenyataan hari ini, tentang BBM, harga BBM yang naik, tentang tarif listrik yang naik, tentang harga cabai yang naik, tentang ada rakyat yang sengsara. Jadi, jangan diremehkan syairnya, karena kuat sekali pesannya,” kata Hensa.

Meski pemerintah berargumen bahwa kenaikan harga hanya menyasar BBM non-subsidi, Hensa tetap memperingatkan adanya dampak berantai bagi ekonomi kelas menengah yang kemudian berimbas ke lapisan masyarakat bawah.

“Kan ada yang bilang bahwa itu yang naik kan BBM non subsidi, orang kaya yang menikmati, ya enggak gitu juga. Rakyat mah rakyat aja, kan kelas menengah juga pasti akan berpengaruh ke kelas yang di bawahnya, kecuali pemerintah emang enggak peduli,” ujar Hensa.

Sebagai solusi, Hensa mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas harga kebutuhan pokok.

Ia menyarankan pemerintah agar lebih aktif turun langsung mendengar keluhan masyarakat daripada sekadar mengabaikan suara yang disampaikan lewat aksi protes.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok




TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung