Berita, Nasional

Ketua Joman Nusantara Bersatu Andi Azwan Sebut Dokter Tifa Berhalusinasi Soal Meterai Ijazah UGM Jokowi

Repelita.id

05 August 2026 23:13 WIB

Ketua Joman Nusantara Bersatu Andi Azwan Sebut Dokter Tifa Berhalusinasi Soal Meterai Ijazah UGM Jokowi
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ketegangan seputar keabsahan dokumen akademik Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali memanas usai munculnya bantahan dari pihak Ketua Joman Nusantara Bersatu Andi Azwan terhadap Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa.

Andi secara tegas menepis tuduhan Dokter Tifa mengenai spesifikasi fisik berkas lulusan Universitas Gadjah Mada khususnya pada aspek pemakaian bea meterai.

ADVERTISEMENT

Menurut penilaian Andi kekeliruan Dokter Tifa terletak pada ketidaksesuaian klaim dengan realitas dokumen resmi para alumni perguruan tinggi tersebut pada masanya.

"Saya bahas sesuatu ini sebetulnya sudah lama dan sudah beberapa kali kita bahas," ujar Andi kepada fajar.co.id, Rabu (5/8/2026).

Pihaknya merasa perlu meluruskan kekeliruan narasi yang disebarkan Dokter Tifa karena dinilai memprovokasi opini publik secara tidak berdasar.

"Tifa mengatakan, ijazah asli ada di saya, yang benar adalah ini. Materainya warna merah," ujar Andi menirukan pernyataan Dokter Tifa.

Andi merinci rangkaian pelaksanaan prosesi pelulusan mahasiswa di lingkungan UGM sepanjang tahun 1985 yang terbagi dalam empat tahapan.

Ia menegaskan bahwa mantan kepala negara tersebut sama sekali tidak terdaftar pada kelompok kelulusan periode awal di tahun tersebut.

"Di UGM tahun 1985 itu ada empat gelombang wisuda. Gelombang pertama pada Februari. Nah, di gelombang itu Pak Jokowi dan teman-temannya angkatan 1980 belum diwisuda," jelasnya.

Sampel berkas yang dipakai Dokter Tifa sebagai tolok ukur diklaim berasal dari gelombang pelulusan tahap berikutnya.

"Kemudian di gelombang kedua itu di bulan Mei. Nah, itulah yang dibawa oleh Dokter Tifa, ijazah yang dia katakan menggunakan materai merah Rp500," imbuhnya.

Guna mematahkan asumsi tersebut Andi menunjukkan bukti dokumen pembanding milik rekan seangkatan yang lulus lebih awal.

Dokumen pembanding itu memperlihatkan bukti penggunaan bea meterai merah dengan nilai nominal sebesar Rp100 dan bukan Rp500.

"Saya punya contoh di bulan yang sama. Ini angkatannya Pak Jokowi yang tercepat, ada tiga orang. Tahun 1985, masuknya 1980," terangnya.

"Masuknya 1980, berarti masih materai merah. Nominalnya itu seratus, bukan lima ratus," sambungnya.

Penjelasan berlanjut mengenai masa kelulusan berikutnya yang beralih menerapkan bea meterai nuansa hijau bernilai Rp100.

"Kemudian ada lagi di bulan Agustus, itu warna hijau. Tapi yang saya bawa ini adalah bulan November, juga warna hijau. Tiga bulan-tiga bulan. Itu materai hijau Rp100," katanya.

Andi menepis keras sangkaan Dokter Tifa yang menyebutkan bahwa jenis meterai hijau bernilai Rp100 hanya dikhususkan bagi dokumen kelulusan jenjang sarjana muda.

"Kalau dia katakan materai hijau Rp100 itu hanya untuk sarjana muda, itu bohong besar. Dokter Tifa itu hanya berhalusinasi," pungkasnya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung