Repelita Los Angeles - Kehidupan mewah yang selama ini dinikmati Hamideh Soleimani Afshar, keponakan mendiang Jenderal Iran Qasem Soleimani, di kawasan Los Angeles tiba-tiba berakhir setelah otoritas imigrasi Amerika Serikat mengambil tindakan tegas terhadap status kependudukannya.
Penangkapan terhadap perempuan tersebut dilakukan oleh U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) pada Jumat, 3 April 2026 waktu setempat, bersamaan dengan putrinya setelah keduanya kehilangan status green card secara paksa.
ADVERTISEMENT
Kasus ini mencuat ke publik setelah aktivitas media sosial Hamideh menjadi sorotan karena diduga mengunggah konten provokatif yang merayakan kematian tentara Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam pernyataan resminya pada Sabtu, 4 April 2026 menyatakan bahwa Hamideh secara terbuka mendukung Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), organisasi yang diklasifikasikan sebagai teroris oleh pemerintah Amerika.
Melalui akun Instagram pribadinya yang kini telah dihapus, Hamideh kerap menyebut Amerika Serikat dengan julukan “Setan Besar” serta menyebarkan propaganda yang mendukung rezim Teheran di tengah ketegangan perang yang berkecamuk.
Selama menetap di Los Angeles, Hamideh dan putrinya dilaporkan menikmati gaya hidup glamor sementara rakyat Iran justru menghadapi kesulitan akibat konflik dan represi politik yang semakin memuncak.
Rubio menegaskan bahwa pemerintahan Trump tidak akan mentolerir keberadaan warga asing yang mendukung rezim teroris anti-Amerika di wilayah Amerika Serikat, dan bahwa loyalitas kepada musuh akan dibayar mahal.
Retorika anti-Amerika yang digaungkan Hamideh semakin tajam setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam pemboman gabungan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Saat ini, Hamideh beserta putrinya berada dalam tahanan imigrasi dan tengah menunggu proses deportasi yang akan dilaksanakan sesegera mungkin, sementara suaminya juga dilarang menginjakkan kaki di Amerika.
Kasus pengusiran ini bukanlah yang pertama karena sebelumnya Fatemeh Ardeshir-Larijani, putri dari mendiang tokoh senior Iran Ali Larijani, juga diusir dari posisinya sebagai dokter di Emory University, Atlanta, setelah petisi publik dengan lebih dari 150.000 tanda tangan muncul.
Langkah tegas Washington ini mengirimkan pesan kuat bahwa di tengah kekacauan internasional dan ancaman blokade Selat Hormuz, tidak ada kompromi bagi mereka yang menyebut AS sebagai “Setan Besar” namun tetap menikmati kemewahan di tanah Amerika.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok