Berita, Ekonomi

Kelas Menengah Paling Dalam Bahaya? Ada Apa dengan Rupiah hingga Rahasia MBG?

Repelita.id

01 June 2026 14:50 WIB

Kelas Menengah Paling Dalam Bahaya? Ada Apa dengan Rupiah hingga Rahasia MBG?
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kelas menengah Indonesia saat ini berada dalam posisi paling rentan akibat kondisi ekonomi yang terus memburuk.

Penyusutan jumlah kelas menengah sebanyak 10 juta orang dalam satu dekade terakhir menjadi sinyal bahaya yang nyata bagi stabilitas konsumsi nasional.

ADVERTISEMENT

Direktur Celios, Bima Yudistira, mengungkapkan bahwa masyarakat kelas menengah semakin terhimpit oleh tekanan biaya hidup yang terus melonjak tajam.

Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.600 per dolar, yang berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi.

Pemerintah dinilai masih bersikap denial dan cenderung memamerkan gaya hidup seolah negara kaya, padahal realita di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Program-program populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menelan anggaran fantastis justru dianggap tidak menyentuh akar permasalahan kelas menengah.

Anggaran jumbo yang dialokasikan untuk MBG diduga mengalami kebocoran hingga 30 persen pada pengadaan barang di luar sektor makanan.

Studi menunjukkan bahwa perputaran uang program tersebut tidak memberikan dampak signifikan bagi ekonomi lokal karena didominasi oleh elit atau yayasan tertentu.

Sementara itu, Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang dipaksakan juga dinilai justru menggerus dana desa yang seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan infrastruktur rakyat.

Ketimpangan semakin melebar karena kebijakan yang bersifat top-down ini tidak mempertimbangkan kebutuhan nyata masyarakat di tingkat tapak.

Pemerintah diingatkan bahwa kelas menengah membutuhkan perlindungan sosial dan kebijakan yang mampu memacu sektor manufaktur serta transportasi publik, bukan proyek populis semata.

Jika tidak segera dilakukan evaluasi total terhadap tata kelola anggaran dan kebijakan fiskal, dampak tekanan ekonomi akan semakin menghancurkan daya beli masyarakat.

Satu-satunya jalan keluar adalah kejujuran pemerintah untuk mengakui kesalahan konsep sejak awal agar perbaikan kebijakan dapat segera dilakukan secara mendasar. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung