Repelita Jakarta - Bencana kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah Jawa Barat kini tengah menjadi sorotan tajam akibat dampak kerusakan ekologis yang ditimbulkannya.
Peristiwa ini dilaporkan telah menghanguskan area vegetasi tanaman pinus seluas kurang lebih satu hektar di kawasan hutan konservasi.
ADVERTISEMENT
Titik kobaran api tersebut berlokasi di wilayah Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Berdasarkan laporan publikasi tertanggal 19 Oktober 2026 dari kanal YouTube OfficialSINDOnews, peristiwa kebakaran di area pegunungan tersebut sempat memicu kekhawatiran masyarakat luas.
Proses pemadaman titik api membutuhkan waktu yang cukup lama dan menguras energi akibat kondisi rintangan geografis di lapangan.
Tim gabungan yang terdiri dari petugas kedaruratan bersama warga setempat harus berjuang keras selama sekitar enam jam demi menjinakkan amuk si jago merah.
Lokasi musibah yang berada di dekat Benteng Cikahuripan dan kawasan Nyawang Bandung tidak dapat diakses oleh armada mobil pemadam kebakaran.
Kondisi tersebut memaksa para petugas di lapangan untuk berjibaku memadamkan kobaran api menggunakan metode manual seadanya.
Demi keselamatan masyarakat dan kelancaran proses evakuasi, otoritas setempat sempat memutus akses lintasan di jalur Sukawarna menuju Cikahuripan.
Langkah penutupan jalan ini diambil untuk meminimalkan risiko fatalitas bagi para pengendara yang berpotensi melintasi area bahaya tersebut.
Meskipun saat ini situasi dilaporkan telah terkendali dan api utama berhasil dipadamkan, kesiapsiagaan penuh tetap diberlakukan di lokasi.
Petugas gabungan masih disiagakan guna mengantisipasi munculnya titik api baru dari sisa-sisa pembakaran yang tersembunyi.
Penyebab dari insiden ini disinyalir kuat berasal dari bara api sisa peristiwa kebakaran terdahulu yang belum sepenuhnya padam di dalam tanah.
Embusan angin yang sangat kencang ditambah suhu udara ekstrem yang menyengat membuat bara tersebut kembali menyala dan merembet cepat.
Fenomena kebakaran berulang ini dibahas lebih mendalam oleh akademisi terkemuka dari Nottingham University, Bagus Mulyadi.
Melalui dialog visual tersebut, sang peneliti memaparkan analisis ilmiah mengenai tingkat kerentanan tanah dan risiko kebakaran lahan.
Ia menguraikan secara rinci mengenai parameter risiko lingkungan yang dipengaruhi oleh tingkat kelembapan serta aktivitas manusia.
Dalam penjelasannya, Bagus Mulyadi memberikan pernyataan resmi, "saya mau disclaimer dulu di awal ya saya peneliti saya tidak dalam posisi melihat hati orang salah atau jahat atau secara tidak saya mau ngomong strik dari sains dan tanggupan perahu itu bukan pitlen tapi di daerah-daerah yang sifatnya gambut yang disebut kebakaran ini diakibatkan oleh apa kita menghitung dari sudut pandang resiko kebakaran resiko kebakaran itu faktornya adalah exposure dan vulnerability betul dia diekpose perlu ada yang buang puntung rokok tapi vulnerability-nya itu juga merupakan faktor yang penting dia seberapa kering atau dia seberapa ditutup lahannya atau dia seberapa dekat dengan aktivitas manusia atau tinggi muka air tanahnya seperti apa atau kelembaban tanahnya seperti apa jadi saya mau dalam diskusi kali ini fokus kepada solusinya sebenarnya gitu ya permasalahannya adalah bahwa kita sekarang sedang dikejar oleh waktu tidak bisa lagi mengejar api tapi memprediksi ke mana api itu akan terjadi front fire-nya itu akan di mana lalu kita cegat di situ kita saintis memberikan strategi agar mitigasi yang sudah berminggu-minggu ini yang terlama sudah tadi di preambul dibilang sudah 13 mingguan gitu ya yang terbesar sepanjang 11 tahun terakhir dari segi lamanya waktu seperti itu nah mengenai masalah memprediksi tim kami berikut Dr adilan Mahdiasa dari ITB itu tengah mengembangkan metode untuk memprediksi ke mana jalaran api itu akan terjadi dan ini data yang kita berikan pada hari ini bahwa dalam minggu ini adalah Kalimantan Selatan yang paling rentan seperti itu itu yang kita bisa lakukan ya" kata Bagus Mulyadi.
Penelitian mitigasi bencana alam ini digawangi oleh ilmuwan Institut Teknologi Bandung yang merancang sistem pemantauan pergerakan tanah.
Metode mutakhir ini diharapkan mampu membaca potensi kerawanan bencana tanpa harus bergantung pada sensor fisik bawah tanah.
Langkah antisipasi dini dinilai jauh lebih krusial dibandingkan melakukan tindakan pemadaman saat vegetasi hutan sudah telanjur hangus.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok