Berita, Nasional

Kader PSI Sebut Gibran Bukan Sekadar Ban Serep, Kini Tengah Bangun Pengalaman Politik Nasional

Repelita.id

28 August 2026 22:01 WIB

Kader PSI Sebut Gibran Bukan Sekadar Ban Serep, Kini Tengah Bangun Pengalaman Politik Nasional
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai tengah melakoni dua peran strategis secara bersamaan dalam roda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Kader Partai Solidaritas Indonesia Dedy Nur Palakka menyebut Gibran tidak hanya menuntaskan kewajiban konstitusionalnya, tetapi juga tengah menempa pengalaman politik di level nasional.

ADVERTISEMENT

Dedy berpandangan bahwa efektivitas seorang wakil presiden tidak sepantasnya diukur dari intensitas kemunculannya di hadapan publik maupun pemberitaan media.

Bagi Dedy, aspek substansial seperti kompetensi, kontribusi nyata, serta kesiapsiagaan menjalankan tugas negara jauh lebih utama untuk dinilai.

“Ukuran seorang wapres seharusnya bukan seberapa sering ia tampil atau seberapa ramai ia diberitakan. Yang lebih penting adalah kapasitas, pengalaman, kontribusi, dan kesiapan memikul tanggung jawab ketika negara membutuhkannya,” ujar Dedy, dikutip Kamis (27/8/2026).

Ia meluruskan pemahaman publik agar tidak memandang posisi wakil presiden sekadar sebagai figur pengganti yang pasif menanti pergantian kepemimpinan.

Jabatan kenegaraan ini dinilainya memberikan ruang luas bagi Gibran untuk mengeksekusi mandat publik sekaligus memperkaya rekam jejak politiknya.

“Gibran berada dalam posisi yang menarik. Ia bukan hanya sedang menjalankan tugas sebagai Wapres, tetapi juga sedang membangun pengalaman politiknya sendiri,” beber Dedy.

Dedy menekankan bahwa posisi wakil presiden memegang legitimasi kuat karena merupakan hasil pilihan langsung rakyat melalui proses pemilu.

Oleh sebab itu, penyebutan istilah ban serep untuk posisi wakil kepala negara dinilainya sangat tidak tepat.

“Namun kita juga perlu memahami satu hal sederhananya bahwa Wapres adalah bagian dari pasangan yang dipilih langsung oleh rakyat,” tegasnya.

Ia memaparkan bahwa label tersebut lahir dari pengalaman sejarah masa lalu ketika wapres harus meneruskan kepemimpinan akibat dinamika politik tertentu.

Meski demikian, struktur ketatanegaraan pada era pascareformasi telah memberikan ruang pembagian tugas pemerintahan yang jauh lebih kompleks.

Seorang wakil presiden dipastikan tetap memegang tanggung jawab aktif dalam mengawal jalannya roda pemerintahan.

“Artinya, Wapres bukan sekadar penonton yang duduk manis di kursi sebelah presiden,” katanya.

Dedy meyakini bahwa portofolio kepemimpinan yang sedang dibangun hari ini akan menjadi fondasi penting bagi karier politik Gibran pada masa mendatang.

Pengalaman di birokrasi tingkat pusat dipandang sebagai bagian integral dari proses pembentukan figur pemimpin nasional.

“Sebab sejarah selalu mengajarkan bahwa selalu ada jalan bagi meeka yang mau terus berjuang di jalur jas merah,” ujarnya.

Penilaian ini mengemuka di tengah hangatnya perbincangan peta politik menuju Pemilu 2029.

Posisi Gibran sebagai wakil presiden muda menjadikannya salah satu tokoh kunci yang diprediksi memiliki kiprah panjang dalam percaturan politik nasional. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung