Berita, Nasional

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Tuntut Makzulkan Trump Israel Raya di Balik Agresi ke Iran?

Repelita.id

12 April 2026 18:26 WIB

Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Tuntut Makzulkan Trump  Israel Raya di Balik Agresi ke Iran?
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Ketegangan global mencapai puncaknya setelah aliansi Amerika Serikat dan Israel meluncurkan agresi militer terhadap Iran, membuat ekonomi dunia guncang hebat.

Di Amerika Serikat sendiri, harga minyak meroket hingga 100 persen, memicu amarah luar biasa dari warga Paman Sam.

ADVERTISEMENT

Akhir pekan lalu, jutaan rakyat Amerika tumpah ruah ke jalan-jalan kota besar dalam demonstrasi terbesar sepanjang sejarah negara adidaya tersebut.

Tuntutan mereka satu suara, yaitu memakzulkan Presiden Donald Trump sekarang juga tanpa penundaan.

Tokoh Muslim terkemuka di Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali, menyoroti bahwa kemuakan rakyat Amerika sebenarnya sudah menumpuk lama terhadap Trump.

Trump dinilai telah mengangkangi Konstitusi dan nilai-nilai luhur American Values yang dijunjung tinggi selama ini.

"Kebijakan imigrasi yang tidak manusiawi dan rasisme yang telanjang hanyalah puncak gunung es," ungkap Imam Shamsi Ali melalui keterangan tertulisnya kepada fajar.co.id pada Rabu malam (8/4/2026).

Namun, kemarahan publik benar-benar meledak saat skandal kriminal pelecehan anak di bawah umur yang dikenal sebagai "The Epstein Files" terbuka lebar ke publik.

Tuntutan rakyat ini membentur tembok tebal di Washington karena lembaga legislatif dan yudikatif didominasi loyalis Republikan.

"Presiden Trump ingin menempatkan diri sebagai 'Raja', bertindak sesuka hati tanpa mempedulikan hukum. Wajar jika tema demo saat ini adalah 'No King' (Tolak Kerajaan)!!" tambah Imam Shamsi Ali.

Imam Shamsi Ali juga membongkar tabir di balik serangan ke Iran yang dinilainya bukan perang Amerika melainkan perang Israel.

"Dorongan utamanya adalah ambisi Zionis untuk mewujudkan 'The Great Israeli' (Israel Raya). Amerika hanya dipakai untuk memenuhi hasrat itu, sementara rakyat Amerika menanggung kerugian ekonomi dan hancurnya citra di mata dunia," tegasnya.

Lebih jauh, Imam menduga adanya ketidakstabilan mental di kalangan pemimpin dunia yang lebih mementingkan ego pribadi.

Trump melalui Board of Peace dicurigai hanya mengejar Nobel Perdamaian demi memuaskan ambisi lama dan membalas dendam kepada Barack Obama.

Meski Trump sempat merendahkan peradaban Iran dengan ancaman akan mengembalikan mereka ke "Zaman Batu", nyatanya Teheran tidak gentar sedikit pun.

Kekuatan pertahanan Iran dan keberhasilan mereka memblokade Selat Hormuz membuat ekonomi global mencekik Amerika Serikat.

Terdesak oleh kondisi domestik dan militer, Trump akhirnya terpaksa menerima 10 poin kesepakatan yang diajukan Iran untuk gencatan senjata selama dua minggu.

Poin-poin tersebut antara lain AS berkomitmen tidak menyerang Iran, Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz, pencabutan seluruh sanksi terhadap Iran, serta penarikan pasukan tempur AS dari wilayah tersebut.

Meski kesepakatan ini memberi napas lega bagi harga minyak dunia, Imam Shamsi Ali memperingatkan agar dunia tidak lengah karena gencatan senjata ini sangat rapuh.

"Israel adalah bangsa yang dalam sejarahnya jarang menepati janji. Saya khawatir, begitu Selat Hormuz dibuka dan harga minyak turun, mereka akan kembali menyerang," pungkas Imam Shamsi Ali.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung