Repelita Washington - Seorang jurnalis ternama AS-Inggris, Mehdi Hasan, melontarkan pandangan menarik tentang kondisi Iran dalam perang melawan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menyebut bahwa Iran saat ini sedang dalam posisi menang meskipun secara kasat mata tidak terlihat sebagai pemenang.
ADVERTISEMENT
Apa sebenarnya maksud dari pernyataan "Iran menang dengan tidak kalah" tersebut?
Hasan menjelaskan bahwa kekuatan yang lebih lemah dalam setiap perjuangan, baik itu gerakan gerilya atau negara yang lebih kecil, menang dengan cara tidak kalah.
"Iran sedang melawan kekuatan militer terbesar dalam sejarah umat manusia, negara terkaya di Bumi, negara dengan senjata nuklir," paparnya.
"Dan Israel, juga negara lain dengan senjata nuklir," imbuh Hasan yang dilansir pada Selasa (21/4/2026).
"Ini adalah pencapaian fenomenal, apa pun pendapat Anda tentang Iran atau pemerintah ini, bahwa negara ini telah bertahan selama ini," sambung jurnalis berkewarganegaraan ganda tersebut.
Ia mengutip contoh Ukraina untuk membandingkan situasi yang dihadapi oleh Iran saat ini.
"Ada kemiripan dengan Ukraina di sini, invasi total oleh negara yang jauh lebih kuat. Orang-orang mengira Ukraina akan ditaklukkan. Akan ada tank-tank Rusia di Kyiv pada hari kedua," katanya.
"Ukraina selamat, dan Iran melakukan hal yang sama dengan dukungan eksternal yang jauh lebih sedikit," kata Hasan.
Menurutnya, anggapan bahwa Iran akan menyerah pada minggu pertama atau bulan pertama perang ini mencerminkan ketidaktahuan sejarah yang lengkap.
"Orang-orang di lingkaran kebijakan Amerika memiliki ketidaktahuan sejarah yang lengkap tentang ketahanan Iran," tegasnya.
Perang Iran-Irak yang berlangsung selama delapan tahun menjadi bukti nyata ketahanan bangsa tersebut.
Rakyat Iran bertahan selama delapan tahun melawan Saddam Hussein yang didukung penuh oleh negara-negara Barat.
Mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dengan sangat enggan menandatangani perjanjian gencatan senjata pada tahun 1988.
Keputusan itu diambil setelah mereka kehilangan sekitar setengah juta warga Iran dalam perang yang berkepanjangan.
Dalam konteks perang saat ini, Iran mengandalkan Selat Hormuz sebagai kartu utamanya dalam negosiasi perdamaian.
Namun menggunakan jalur air tersebut sebagai alat tawar-menawar bukanlah tanpa risiko bagi republik Islam tersebut.
Blokade AS telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai puluhan juta dolar AS setiap harinya.
Meskipun demikian, Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen Iran, menegaskan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali mereka.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok