Repelita [Jakarta] - Bayang-bayang pengaruh politik Joko Widodo dinilai masih mencengkeram konstelasi kekuasaan nasional meski masa kepemimpinannya telah berakhir sejak dua tahun silam.
Analisis tajam tersebut disampaikan oleh pengamat sosial politik Adian Radiatus melalui catatan opininya pada Senin (10/8/2026).
ADVERTISEMENT
Manuver politik lewat instrumen partai pendukung dituding memperlihatkan gelagat seolah figur bersangkutan masih memegang kendali tertinggi pemerintahan.
"Dengan memanfaatkan PSI, Jokowi berperilaku seakan masih menjadi pemimpin di negeri ini," kata Adian.
Sikap politik tersebut secara tersirat dianggap merendahkan otoritas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto di hadapan publik.
Pencitraan merakyat yang selama ini dibangun dituding sekadar topeng penutup tabiat kekuasaan yang arogan.
"Kesombongan Jokowi yang berbalut kepura-puraan memakai wajah topeng kesederhanaan sebagaimana yang dilakoninya selama ini," kata Adian.
Dominasi jaringan loyalis masa lalu yang masih bercokol kuat di jajaran pos penting pemerintahan kian mempertegas dugaan tersebut.
Keberadaan putra sulung sang mantan presiden sebagai orang nomor dua di republik ini menjadi bukti paling nyata.
"Terutama anak sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, masih menjadi Wapres," kata Adian.
Kendati demikian, langkah penyesuaian tata letak kursi wakil presiden saat agenda kenegaraan resmi mendapat apresiasi positif darinya.
Penggeseran posisi duduk dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara pada 20 Juli 2026 lalu dinilai sudah pada jalur yang benar.
"Sudah tepat Gibran tidak duduk berdampingan di samping Presiden Prabowo Subianto seperti sidang-sidang sebelumnya, melainkan ditempatkan sejajar dengan barisan para menteri kabinet," kata Adian. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok