Repelita Jakarta - Dinamika pergantian pucuk pimpinan di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia sempat diwarnai sejumlah hambatan serius sebelum akhirnya posisi tersebut resmi berganti.
Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD membeberkan bahwa rencana perombakan posisi strategis tersebut sempat mengalami kegagalan berulang kali.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan analisis yang ia sampaikan, proses pergantian pimpinan korps bhayangkara itu tercatat pernah tertunda hingga tiga kali akibat intervensi situasi politik tertentu.
Salah satu momen krusial pembatalan tersebut terjadi tatkala Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendadak mendatangi istana untuk menghadap Presiden Prabowo Subianto.
Berikutnya pernah mau diganti lagi, lalu tiba-tiba tidak jadi, karena beritanya itu Gibran datang menghadap, ungkap Mahfud membeberkan situasi saat itu.
Ia menilai kehadiran sosok wakil presiden yang bersangkutan memunculkan spekulasi kuat di ruang publik mengenai adanya tarik menarik kepentingan politik.
Yang selama ini tidak pernah menghadap, lalu menghadap kok, kira-kira bulan Juni lah ya, itu kan ada peristiwa tuh, ujar Mahfud menambahkan.
Rangkaian peristiwa penundaan itu membuat Presiden Prabowo Subianto akhirnya merumuskan taktik khusus agar langkah mutasi berikutnya tidak kembali bocor atau digagalkan pihak lain.
Sehingga kesimpulannya, ini kalau dibicarakan panjang-panjang dan ramai, tidak jadi terus.
Pak Prabowo mengambil taktik ini tidak usah diberitahu dulu, makanya pemberitahuannya mendadak, tutur Mahfud menjelaskan strategi sang kepala negara.
Langkah senyap tersebut dinilai sangat efektif untuk menghindariintervensi serta mengantisipasi kegagalan beruntun sebagaimana pengalaman penundaan yang sudah-sudah.
Jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal, tutup Mahfud mengakhiri analisisnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok