Repelita Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyebut adanya agenda politik terselubung di balik berbagai isu besar yang belakangan ini dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, termasuk tuduhan bahwa ia akan mengambil alih Partai NasDem dan membeli NasDem Tower di kawasan Menteng.
Ketua DPP PSI Bestari Barus menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar dan ia telah membahas langsung kabar itu saat bertemu Jokowi di kediaman pribadinya di Solo pada Senin, 13 April 2026.
ADVERTISEMENT
Dalam pertemuan tersebut, menurut Bestari, Jokowi justru mempertanyakan mengapa namanya kembali dikaitkan dengan isu besar yang beredar di publik.
"Pak Jokowi bertanya, kenapa kok nama saya disebut-sebut seperti itu," ujar Bestari.
Bestari menilai bahwa setiap kali muncul kabar besar di ruang publik, nama Jokowi kerap ikut diseret meskipun tidak memiliki keterkaitan langsung.
Ia menduga isu tersebut sengaja disebarkan oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan politik untuk membentuk opini publik negatif terhadap Jokowi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
"Tidak ada keinginan Pak Jokowi untuk mengambil alih Partai NasDem. Ini hanya isu yang dilontarkan pihak tertentu untuk membangun opini negatif terhadap Pak Jokowi dan Mas Gibran," tegas Bestari.
Sebagai mantan kader Partai NasDem, Bestari berharap partai tersebut dapat segera melakukan konsolidasi internal menghadapi dinamika politik yang berkembang.
Jokowi sendiri saat ditemui di kediamannya di Solo pada Jumat, 10 April 2026, tegas membantah tudingan tersebut dan menyebut isu itu tidak berdasar serta sangat menuduh.
"Nggak ada sama sekali. Dalam pikiran nggak ada sama sekali. Isu yang sangat menuduh," tutur Jokowi.
Terkait isu pembelian NasDem Tower, Jokowi menanggapi sambil tertawa dan meminta publik berpikir dengan logika karena nilai gedung mencapai triliunan rupiah.
"Beli itu berapa triliun? Duitnya dari mana? Itu kan tower yang sangat tinggi sekali. Kelas saya UMKM," jelasnya.
Menanggapi rumor bahwa dirinya memberi uang Rp50 miliar kepada Rismon Sianipar, Jokowi kembali tertawa dan menganggap rumor itu tidak masuk akal.
"Logikanya ya. Logikanya beliau-beliau ini tersangka. Kemudian minta RJ ke Polda Metro Jaya, ke penyidik, karena kewenangan ada di sana, tetapi harus memohon maaf kepada yang dituduh, kepada saya," kata Jokowi.
"Masa kita geng yang dituduh malah memberi duit. Logikanya gimana, sih? Yang tersangka beliau-beliau, ke sini kita maafkan. Kok, saya masih memberi duit, tuh, gimana?" pungkasnya sambil tertawa.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok