Repelita [Jakarta] - Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago meminta pemerintah meniadakan atraksi joget pada upacara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia di Istana Merdeka.
Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting tersebut menilai agenda kenegaraan mestinya berlangsung penuh keheningan serta menunjukkan kepedulian terhadap situasi sosial warga.
ADVERTISEMENT
Ia berpandangan hiburan semacam itu tidak lagi sejalan dengan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.
"Terkait dengan peringatan HUT RI yang ke-81, yaitu Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur, saya menyarankan baiknya ditiadakan joget-joget di Istana. Karena ini sangat sensitif, jagalah perasaan rakyat," kata Pangi Syarwi Chaniago.
Kondisi ekonomi publik saat ini membutuhkan kepekaan tinggi dari para pemangku kebijakan di tingkat pusat.
Gelombang pemutusan hubungan kerja serta penyusutan daya beli membuat masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan harian.
"Karena bagaimanapun rakyat hari ini tentu saja banyak yang kehilangan lapangan pekerjaan, daya beli yang menurun membuat mereka kesulitan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari karena beban biaya hidup yang makin mahal," kata Pangi Syarwi Chaniago.
"Jadi saya pikir normalisasi yang dilakukan Pak Jokowi dulu, joget-joget di Istana ini, menurut saya enggak perlu dipertahankan, enggak usah diteruskan," kata Pangi Syarwi Chaniago.
Pemerintah dipandang perlu menjaga martabat lembaga negara serta konsisten memperlihatkan rasa empati.
Peringatan hari bersejarah bangsa sepatutnya dipenuhi oleh rangkaian kegiatan yang memupuk rasa cinta tanah air.
"Karena pejabat atau pemerintah atau presiden harus punya wibawa, punya perasaan, punya kepekaan terhadap kesulitan yang hari-hari didapat oleh rakyat. Karena itu saya menyarankan, stop, sudahi," kata Pangi Syarwi Chaniago.
"Lebih baik lakukanlah peringatan HUT RI yang ke-81 dengan khidmat, dengan doa," kata Pangi Syarwi Chaniago.
Rangkaian perayaan di Istana disarankan lebih mengedepankan tayangan edukasi sejarah perjuangan kemerdekaan dibanding hiburan hiburan pop.
"Mungkin juga memutar video-video perjuangan di awal-awal kemerdekaan, bagaimana merebut kemerdekaan, mungkin itu jauh lebih berkelas. Tentang nasionalisme kita, lagu-lagu kebangsaan kita, yang memantik jiwa nasionalisme," kata Pangi Syarwi Chaniago.
Mempertahankan kebiasaan hiburan tersebut berisiko memunculkan pandangan miring terhadap kepemimpinan presiden.
"Jadi enggak usah lagi seperti periode-periode HUT RI yang sebelumnya. Yang joget-joget itu menurut saya sangat tidak baik. Sentimennya pasti negatif, itu juga mendegradasi citra presiden dan pemerintah," kata Pangi Syarwi Chaniago.
Langkah tersebut dikhawatirkan memicu gelombang kritik dari warga net di berbagai saluran media sosial.
"Khawatirnya nanti bisa di-bully, bisa jadi meme, bisa jadi serangan balik dari masyarakat. Yang sebenarnya masyarakat juga sangat mengkritik itu. Mestinya kemerdekaan itu betul-betul penuh dengan khidmat," kata Pangi Syarwi Chaniago.
Di sisi lain Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa antusiasme masyarakat amat tinggi untuk mengikuti perayaan di Istana.
Catatan pendaftaran memperlihatkan sebanyak 336.000 orang telah mengajukan permohonan akses kuota dalam empat hari pendaftaran.
"Karena kapasitas atau luas istana itu juga sangat terbatas, jadi dari slot kurang lebih 5.500 yang kita siapkan, pendaftar selama empat hari dibuka itu mencapai di atas 336.000 pendaftar," kata Prasetyo Hadi.
Pihak panitia memutuskan menambah daya tampung lokasi guna merespons tingginya permintaan undangan dari publik.
Penambahan satu area tribun baru disiapkan agar mampu menampung tambahan ribuan peserta masyarakat umum.
"Nanti tentu akan kita bagi menjadi dua sesi yaitu upacara pagi dan upacara penurunan bendera, untuk menambah atau mengakomodir jumlah supaya jauh lebih banyak masyarakat dapat ikut hadir di Istana," kata Prasetyo Hadi.
Sistem seleksi ketat diterapkan dengan mendahulukan warga yang belum pernah mendatangi upacara langsung di Istana Merdeka.
"Bukan tidak boleh tetapi kita akan mencoba membagi porsi dengan berusaha memprioritaskan bagi saudara-saudara kita, masyarakat kita yang belum pernah sama sekali (hadir di Istana)," kata Prasetyo Hadi. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok