Berita, Timur Tengah

Israel-AS Intensifkan Koordinasi Serangan ke Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar

Repelita.id

04 May 2026 16:25 WIB

Israel-AS Intensifkan Koordinasi Serangan ke Iran, Gencatan Senjata Terancam Buyar
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Israel dilaporkan meningkatkan komunikasi strategis dengan Amerika Serikat terkait kemungkinan melanjutkan serangan militer ke Iran di tengah mandeknya upaya diplomasi dan rapuhnya gencatan senjata.

Laporan Channel 12 menyebut Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, kini mempererat koordinasi dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Brad Cooper, untuk membahas skenario aksi militer terhadap Iran jika situasi kembali memanas.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan penilaian militer, sejumlah infrastruktur penting Iran seperti jaringan energi, jalan raya, fasilitas baja, hingga cadangan minyak dan gas berpotensi menjadi sasaran jika serangan dilanjutkan.

Koordinasi antara Washington dan Tel Aviv juga meliputi pemantauan terhadap upaya Iran memulihkan fasilitas strategisnya pasca serangan sebelumnya.

Di saat bersamaan, militer Israel meningkatkan status kesiagaan dan memperkuat sistem pertahanan untuk mengantisipasi kemungkinan babak baru konflik yang sewaktu-waktu bisa meletus.

Laporan dari Axios menyebut CENTCOM telah menyusun rencana baru yang mencakup gelombang serangan pendek dan kuat terhadap infrastruktur kunci Iran.

Opsi lain yang dipertimbangkan termasuk mengamankan kendali atas Selat Hormuz serta operasi pasukan khusus untuk mengamankan stok uranium Iran yang telah diperkaya.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah menerima pengarahan selama 45 menit dari CENTCOM mengenai opsi-opsi militer baru tersebut.

Dalam pernyataannya di Florida, Trump mengatakan bahwa serangan terhadap Iran dapat dilanjutkan jika Teheran berbuat jahat meskipun ia saat ini memilih sikap menunggu.

Sementara itu Iran telah menunjukkan sikap tegas dengan menyatakan kesiapannya menghadapi dua kemungkinan yaitu melanjutkan diplomasi atau kembali ke konflik terbuka.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa bola sekarang berada di tangan Washington untuk memilih antara jalur diplomasi atau pendekatan konfrontatif.

Melalui mediasi Pakistan, Iran telah mengirimkan proposal 14 poin yang mencakup tuntutan penarikan pasukan AS dan pencabutan blokade laut.

Kazem Gharibabadi memaparkan proposal tersebut kepada para duta besar asing di Teheran, menegaskan bahwa Iran percaya resolusi terletak pada diplomasi berdasarkan kepentingan nasional.

Dalam proposalnya Iran bersikeras bahwa masalah harus diselesaikan dalam 30 hari dan fokus harus beralih dari perpanjangan gencatan senjata ke penghentian perang total.

Namun hingga kini proposal Iran belum mendapat respons positif dari Washington dengan Trump menyatakan ragu bahwa proposal tersebut dapat diterima.

Di tengah ketegangan yang meningkat ini, Israel baru saja menerima pengiriman 6.500 ton amunisi dan perlengkapan militer dari Amerika Serikat.

Pengiriman besar ini mencakup ribuan amunisi udara dan darat, truk militer, serta kendaraan tempur ringan yang didistribusikan ke berbagai pangkalan militer Israel.

Sejak dimulainya operasi militer, Israel telah menerima lebih dari 115.600 ton peralatan militer melalui ratusan pengangkutan udara dan laut.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa negaranya tetap siap bertindak setiap saat melawan musuh-musuhnya.

Konflik terbaru antara AS-Israel dan Iran memuncak setelah serangan dilancarkan pada 28 Februari lalu memicu serangan balasan Iran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk.

Ketegangan sempat mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April melalui mediasi Pakistan.

Pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11-12 April digelar namun gagal menghasilkan kesepakatan permanen yang memuaskan semua pihak.

Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu yang jelas, namun ketegangan tetap tinggi di lapangan.

Iran juga telah memberlakukan aturan maritim baru di Teluk dan Selat Hormuz dengan Korps Garda Revolusi Islam mengendalikan hampir 2.000 kilometer garis pantai.

Kini dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak yang masih saling adu argumen di tengah meningkatnya pengiriman senjata dan persiapan militer.

Para pengamat menilai bahwa periode mendatang akan menjadi fase krusial yang menentukan apakah Timur Tengah akan menuju perdamaian atau justru memasuki babak baru konflik yang lebih berbahaya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung