Repelita Jakarta - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa gelombang terbaru dari Operasi True Promise 4 telah berhasil menghantam wilayah Israel serta daerah pendudukan Zionis di Palestina pada Rabu, 1 April 2026.
Dalam pernyataan resminya, IRGC memastikan bahwa serangan gelombang ke-89 ini menggunakan rudal berat dan berpemandu presisi, yaitu jenis rudal Qiam, Emad, serta rudal Qadr yang dilengkapi dengan multi hulu ledak berdaya ledak tinggi.
ADVERTISEMENT
Dikutip dari laporan Tasnim News, IRGC menyebut bahwa operasi rudal yang dahsyat tersebut berhasil menciptakan sebuah "tenda api" yang membentang dari wilayah Ramat Gan hingga Holon, Palmachim, dan Bnei Brak di sebelah timur Tel Aviv.
Serangan ini secara langsung memperintensifkan kehidupan penduduk Israel yang kini dipenuhi oleh suara sirene peringatan di setiap sudut kota.
IRGC mencatat bahwa banyak warga Israel terjebak di jalanan ketika mereka bergegas menuju tempat perlindungan, dengan sebagian orang berjuang keras untuk masuk dan bertahan dalam waktu yang lama di bunker bawah tanah yang tersedia.
Dalam laman media tersebut, peristiwa ini disebut sebagai "hadiah liburan terbesar" yang diberikan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Donald Trump kepada warga Israel pada malam perayaan Paskah.
Lebih lanjut, Korps Garda Revolusi Islam Iran itu menambahkan bahwa operasi rudal dan drone mereka terhadap berbagai target di seluruh wilayah Palestina yang diduduki Zionis Israel masih terus berlangsung hingga saat ini.
Mereka juga menyatakan bahwa cadangan senjata yang belum tersentuh akan secara bertahap dikerahkan dalam beberapa hari dan bulan mendatang sebagai bagian dari eskalasi berkelanjutan.
Sementara itu, Ali Akbar Velayati, penasihat senior urusan internasional untuk Pemimpin Revolusi Islam, menyatakan bahwa perang yang sedang berlangsung akan berakhir sesuai dengan strategi dan tekad Iran, bukan berdasarkan kesalahan perhitungan dari pihak para agresor.
Mantan Menteri Luar Negeri tersebut juga membahas soal Selat Hormuz melalui akun X miliknya pada tanggal yang sama, dengan pernyataan tegas mengenai posisi Iran.
"Meskipun Selat Hormuz tetap terbuka bagi dunia, selat itu akan selalu tertutup bagi musuh-musuh Iran dan pangkalan regional mereka," tulis Velayati dalam cuitannya.
Velayati menekankan bahwa perang akan berakhir melalui perencanaan yang cermat dan kekuatan Iran yang sesungguhnya, bukan melalui rasa percaya diri yang berlebihan atau harapan muluk dari mereka yang melancarkan agresi.
Iran kembali meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel pada Kamis, 2 April 2026, yang menghantam beberapa lokasi strategis termasuk pangkalan laut, wilayah Yerusalem, serta kota Arad di bagian selatan Zionis.
Di Kota Arad saja, dilaporkan setidaknya enam orang tewas dan lebih dari seratus orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Media lokal menyebutkan bahwa sebuah roket seberat 450 kilogram jatuh di kota tersebut, yang secara terbuka diakui sebagai kegagalan sistem pertahanan Israel dalam melakukan pencegatan.
Pada Rabu 1 April 2026, Garda Revolusi Islam atau IRGC mengklaim telah menghancurkan sebuah kapal kontainer milik Israel di perairan Teluk Persia sebagai bagian dari rangkaian eskalasi yang terus meningkat.
Akibat serangan yang dilakukan nyaris tanpa henti ini, sirene peringatan bahaya udara terus berbunyi di Yerusalem dan Israel tengah, dengan laporan ledakan yang terdengar hingga ke wilayah Ramallah.
Teheran dilaporkan telah meluncurkan sekitar sepuluh rudal balistik ke wilayah Israel tengah pada Rabu siang, yang dikabarkan sebagai salah satu salvo rudal terbesar sejak konflik meningkat.
IRGC mengklaim bahwa pihaknya telah meluncurkan serangan gelombang ke-88 dalam rangkaian Operasi True Promise 4 atau Janji Sejati 4 pada akhir Maret hingga April 2026 yang menargetkan radar peringatan dini dan infrastruktur militer Israel serta aset Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Serangan kali ini yang memiliki sandi "Ya Fatimah al-Zahra" dilaporkan menggunakan berbagai jenis rudal berat dengan tingkat akurasi yang tinggi.
Komandan Angkatan Udara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi, mengejek Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan mengatakan bahwa sirene rudal yang berulang dan ketakutan di tempat perlindungan adalah "hadiah liburan" untuk warga Israel.
Dalam sebuah unggahan yang ditulis dalam bahasa Ibrani di akun X miliknya pada tanggal 2 April 2026, Brigadir Jenderal Majid Mousavi menyebut pemandangan sirene yang berulang dan gemetar di dalam tempat perlindungan bawah tanah yang sempit dan gelap di wilayah pendudukan di bawah gempuran rudal Iran merupakan kondisi yang mencerminkan sebagian dari "hadiah" Netanyahu kepada para Zionis selama masa liburan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok