Berita, Timur Tengah

Iran Ungkap Akal Bulus Trump di Balik Drama Perpanjangan Gencatan Senjata

Repelita.id

23 April 2026 15:33 WIB

Iran Ungkap Akal Bulus Trump di Balik Drama Perpanjangan Gencatan Senjata
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Republik Islam Iran dengan tegas menolak gencatan senjata yang diumumkan secara sepihak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sambil mengungkap apa yang disebut sebagai "akal bulus" di balik drama perpanjangan tersebut.

Pemerintah Iran menilai bahwa manuver Trump bukanlah langkah perdamaian tulus melainkan taktik licik untuk mengulur waktu dan menyusun strategi serangan mendadak.

ADVERTISEMENT

Penasihat Ketua Parlemen Iran Mahdi Mohammadi melalui platform X menegaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata dari pihak Trump tidak memiliki makna apa pun di mata Teheran.

Mahdi dengan tegas menyebut langkah Trump sebagai akal bulus semata yang dirancang untuk menjebak Iran dalam ilusi perdamaian sementara persiapan perang terus dilakukan di belakang layar.

Tim negosiasi Iran pun menyampaikan sikap final mereka dengan menolak keikutsertaan dalam perundingan perdamaian kedua yang dijadwalkan pada Rabu, 22 April 2026 di Islamabad, Pakistan.

Keputusan bulat ini diambil setelah Iran mencermati dengan seksama bahwa tuntutan Amerika Serikat dinilai telah melampaui kerangka kesepakatan awal yang pernah disepakati bersama.

Tuntutan Washington mencakup berbagai hal sensitif seperti pembatasan total program nuklir Iran hingga pembukaan Selat Hormuz bagi kapal asing tanpa kecuali.

Tokoh Iran bernama Alhaki menyebut bahwa tuntutan tersebut sangat tidak realistis dan sama sekali tidak memiliki dasar logis dalam hukum internasional yang berlaku.

Teheran menilai bahwa di balik tawaran perpanjangan gencatan senjata, Trump sebenarnya sedang berusaha mengamankan posisi untuk melancarkan serangan kejutan kapan saja.

Garda Revolusi Islam atau IRGC pun mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran ke target Amerika Serikat dan Israel dengan kekuatan maksimal jika diprovokasi.

Serangan besar itu bakal diluncurkan tanpa ampun jika kedua negara tersebut kembali berani melakukan agresi militer terhadap kedaulatan dan wilayah Republik Islam.

Peringatan keras ini disampaikan oleh Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, yang dilaporkan media televisi IRIB pada Rabu, 22 April 2026.

Dalam pernyataan resmi tersebut disebutkan bahwa IRGC akan memberikan balasan yang lebih keras dibandingkan sebelumnya kepada Amerika Serikat dan Israel.

"Menyikapi ancaman berulang yang dilontarkan oleh Presiden AS dan para panglima agresor serta teroris negara tersebut, dengan menekankan kesiapan penuh, memperingatkan apabila terjadi agresi atau tindakan apa pun terhadap Islam maka angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera menyerang sarana-sarana yang ditentukan dengan kekuatan penuh," katanya.

Ia memastikan bahwa Republik Islam bakal memberikan hukuman yang lebih keras daripada sebelumnya terhadap Amerika yang agresif dan zionis Israel pembunuh anak-anak.

Iran menilai bahwa perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu yang diumumkan Trump pada Selasa, 21 April 2026 malam hanyalah drama politik belaka.

Trump mengklaim perpanjangan tersebut dilakukan atas permintaan Pakistan, namun Teheran menilai klaim tersebut tidak berdasar dan hanya akal bulus untuk menekan Iran.

Sebelumnya, Gedung Putih juga menunda kunjungan Wakil Presiden AS James David Vance ke Islamabad yang dijadwalkan untuk melanjutkan putaran kedua pembicaraan.

Penundaan ini terjadi karena Teheran untuk sementara waktu menolak melanjutkan negosiasi setelah membaca niat buruk di balik tawaran perpanjangan gencatan senjata.

Sementara itu, pihak Pakistan yang bertindak sebagai mediator mengaku bahwa Teheran belum memberikan konfirmasi resmi terkait keikutsertaannya dalam perundingan damai.

Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah tertipu oleh drama perpanjangan gencatan senjata yang hanya berisi akal bulus dan taktik penundaan dari Trump.

Selama tuntutan tidak realistis masih melekat dan ancaman militer masih membayangi, Teheran menegaskan pintu negosiasi akan tetap tertutup rapat tanpa celah sedikitpun.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung