Repelita Teheran - Perundingan damai putaran kedua yang sangat diharapkan oleh Presiden AS Donald Trump gagal terlaksana setelah Iran secara tegas menolak untuk hadir di meja perundingan.
Meskipun demikian, Trump secara sepihak tetap menyatakan bahwa masa gencatan senjata akan diperpanjang tanpa persetujuan dari pihak Iran.
ADVERTISEMENT
Sebelum situasi ini terjadi, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala tim negosiator negara tersebut, Dr. Muhammad Bagher Qalibaf, telah melontarkan pernyataan tegas mengenai sikap Teheran.
Qalibaf menyatakan dengan lantang bahwa pihaknya tidak akan pernah menerima negosiasi yang berlangsung di bawah bayang-bayang ancaman dari pihak manapun.
Ia juga mengungkapkan bahwa selama dua minggu terakhir, Iran telah melakukan persiapan matang untuk mengungkapkan apa yang disebut sebagai kartu baru di medan perang.
Pernyataan Qalibaf ini langsung memicu spekulasi luas di kalangan analis militer internasional mengenai jenis kekuatan baru yang dimaksud oleh Iran.
Pakar militer asal Rusia, Yuri Lyamin, yang dikutip dari laporan Sputnik International pada 21 April 2026, memberikan pandangannya tentang kemungkinan senjata tersebut.
Menurut Lyamin, Iran kemungkinan besar memiliki senjata-senjata yang hingga saat ini belum dapat diidentifikasi secara tepat oleh dunia internasional.
Kategori senjata tersebut diperkirakan mencakup rudal balistik dan rudal jelajah dengan jangkauan jarak yang sangat jauh.
Selain itu, Iran juga diduga telah mengembangkan drone kamikaze generasi terbaru dengan kemampuan yang lebih mematikan.
Tidak hanya itu, Tehran juga disinyalir memiliki senjata anti-kapal baru yang meliputi rudal, torpedo, serta ranjau laut yang canggih.
Lyamin juga mengungkapkan bahwa selama dua pekan terakhir, Iran telah melakukan berbagai persiapan strategis lainnya di luar pengembangan senjata.
Salah satu persiapan tersebut adalah upaya membangun kembali infrastruktur yang rusak akibat serangan dengan kecepatan tinggi.
Iran juga sibuk mengisi kembali kebutuhan pokok negaranya, mulai dari cadangan makanan dan obat-obatan hingga persediaan bahan bakar.
Di samping itu, proses pembersihan kerusakan dan pembersihan ranjau di jalan serta pintu masuk terowongan dekat pangkalan rudal bawah tanah terus digencarkan.
Yang terpenting, Iran mempercepat laju produksi militer, terutama di pabrik-pabrik bawah tanah yang dinilai tidak dapat dijangkau oleh jangkauan serangan AS.
Para pengamat menilai bahwa kartu baru Iran ini merupakan sinyal bahwa negara tersebut tidak akan gentar menghadapi tekanan AS.
Sementara itu, profil Muhammad Bagher Qalibaf sebagai ketua tim negosiator juga menarik perhatian karena latar belakangnya yang unik.
Qalibaf tidak hanya seorang politisi senior, tetapi juga memiliki lisensi pilot resmi untuk pesawat Airbus A321.
Pada tahun 2024, di tengah pemboman Israel yang sedang berlangsung, ia bahkan menerbangkan sendiri delegasi Iran menuju Beirut, Lebanon.
Ia meraih gelar sarjana geografi dari Universitas Teheran, gelar magister dari Universitas Islam Azad, dan gelar doktor politik dari Universitas Tarbiat Modares.
Keterampilan profesionalnya sebagai pilot Airbus ia peroleh selama masa dinasnya di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dengan segala persiapan yang dilakukan, Iran tampaknya benar-benar serius untuk menunjukkan kekuatannya jika diplomasi menemui jalan buntu.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
ترامپ با اعمال محاصره و نقض آتشبس میخواهد تا به خیال خود این میز مذاکره را به میز تسلیم تبدیل کند یا جنگافروزی مجدد را موجّه سازد.
— محمدباقر قالیباف | MB Ghalibaf (@mb_ghalibaf) April 20, 2026
مذاکره زیر سایهٔ تهدید را نمیپذیریم و در دو هفتهٔ اخیر برای رو کردن کارتهای جدید در میدان نبرد آماده شدهایم.