Berita, Nasional

Iran Sebut Dunia Kini Bergantung pada Selat Hormuz, AS Didesak Ubah Sikap Trump Yang Arogan

Repelita.id

02 May 2026 17:55 WIB

Iran Sebut Dunia Kini Bergantung pada Selat Hormuz, AS Didesak Ubah Sikap Trump Yang Arogan
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref dengan tegas menyatakan bahwa dunia saat ini sedang bergantung pada keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz yang sepenuhnya berada di bawah kendali negaranya.

Dalam pernyataan yang dilontarkan pada 28 April 2026, Aref mengungkapkan bahwa negara-negara yang dulu menghina dan merendahkan Iran kini bertekuk lutut memohon izin untuk melintasi selat strategis tersebut.

ADVERTISEMENT

“Negara-negara yang dulu menghina kami dan merendahkan kami, serta menolak mengekspor bahan bakar penerbangan ke kami, kini memohon kepada kami untuk mengizinkan kapal-kapal mereka melintasi Selat Hormuz dan memastikan pasokan energi mereka,” ujar Aref dengan nada percaya diri tinggi.

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas tekanan berkepanjangan yang dilakukan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dinilai arogan terhadap Iran.

Teheran secara tegas mendesak Washington untuk segera mengubah sikapnya yang selama ini cenderung memaksakan kehendak tanpa menghormati kedaulatan negara lain.

Selat Hormuz yang memiliki lebar hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya menjadi jalur vital karena sekitar 20 persen minyak mentah global melintas setiap hari.

Jika jalur ini terganggu maka harga minyak dunia akan meroket dan perekonomian global akan mengalami guncangan hebat yang tidak diinginkan oleh siapa pun.

Iran sejak awal Maret 2026 secara efektif memperketat kendali atas selat tersebut sehingga sejumlah perusahaan pelayaran internasional mulai menunjukkan kepatuhan dengan membayar biaya transit.

Data dari lembaga pemantau TankerTrackers menunjukkan bahwa volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz menurun drastis hingga lebih dari 40 persen pasca konflik memanas.

Penurunan ini bukan karena kapal tidak mau lewat melainkan karena ketakutan akan insiden dan persyaratan baru yang diberlakukan oleh pemerintah Iran.

Bagi Amerika Serikat situasi ini sangat memalukan mengingat Armada Kelima Angkatan Laut AS selama puluhan tahun ditempatkan di Bahrain untuk mengamankan jalur tersebut.

Namun setelah serangan balasan Iran yang berhasil menghantam pangkalan-pangkalan militer AS di Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab, persepsi tentang dominasi Amerika hancur total.

Teheran kini mendesak Trump untuk mengubah pendekatannya yang arogan dan menggantinya dengan sikap saling menghormati dalam setiap proses negosiasi.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya juga menegaskan bahwa agresi militer AS dan serangan rezim Israel telah membuat Teheran kehilangan kepercayaan terhadap Washington.

“Pejabat AS harus menghentikan retorika dan tindakan provokatif guna membangun kembali kepercayaan Iran,” kata Pezeshkian dalam pidato resminya.

Kepercayaan diri Teheran juga ditopang oleh dukungan kuat dari Presiden Rusia Vladimir Putin yang berjanji melakukan segala sesuatu untuk mendukung kepentingan Republik Islam.

Putin menyampaikan komitmen tersebut dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di St Petersburg pada 27 April 2026.

Dengan Rusia di belakang Iran dan China yang tetap menjadi pembeli utama minyak Teheran, sanksi-sanksi yang dilayangkan Washington kehilangan banyak daya gedornya.

Pernyataan Aref menjadi sinyal jelas bahwa era dimana kekuatan Barat bisa mendikte kehendaknya kepada Iran telah berakhir untuk selamanya.

Dunia kini membutuhkan Iran lebih dari Iran membutuhkan dunia, dan Selat Hormuz adalah kunci untuk itu yang saat ini dipegang erat oleh Teheran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung