Repelita Havana - Setelah ketegangan dengan Iran mulai mereda, giliran Kuba yang kini bersiap menghadapi potensi konflik dengan Amerika Serikat dengan ancaman perang gerilya.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyatakan negaranya akan merespons dengan kampanye gerilya jika AS melancarkan serangan militer menyusul ancaman Donald Trump bahwa Kuba akan jadi sasaran berikutnya.
ADVERTISEMENT
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan majalah Newsweek di Havana pada hari Jumat lalu dan diterbitkan pada Rabu, yang merupakan wawancara pertama pemimpin Kuba dengan media Amerika sejak 2023.
"Kami akan selalu berusaha menghindari perang, dan kami akan selalu mengupayakan perdamaian. Namun jika agresi militer terjadi, kami akan membela diri, kami akan berperang," tegas Diaz-Canel.
Ia memperingatkan Washington bahwa setiap operasi militer akan mengakibatkan kerugian besar bagi kedua negara, di mana korban jiwa dan kehancuran material tidak akan terhitung jumlahnya.
"Dan jika kami kalah dalam pertempuran, maka kematian bagi tanah air adalah kehidupan," ujarnya mengacu pada slogan populer mendiang pemimpin Fidel Castro.
Presiden Kuba menggunakan doktrin "perang rakyat" yang menyatakan bahwa serangan AS akan merugikan secara besar-besaran dan hal itu bukanlah sesuatu yang layak diterima oleh rakyat Kuba.
Diaz-Canel menegaskan bahwa Kuba tidak menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat, apalagi ancaman luar biasa seperti yang dituduhkan oleh pemerintahan Trump.
Ancaman Trump datang di saat Kuba sedang menderita krisis ekonomi parah dengan 10 juta warganya mengalami pemadaman listrik setiap hari akibat embargo AS.
Gedung Putih membenarkan pernyataan Trump dengan menyatakan bahwa Kuba menimbulkan ancaman luar biasa terhadap keamanan nasional AS karena kebijakan komunis Havana dan hubungannya dengan Rusia, China, serta Iran.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok