Repelita Washington D.C. - Blokade angkatan laut Amerika Serikat yang diberlakukan sejak 13 April 2026 memang menekan ekonomi Iran, namun diyakini belum cukup untuk menjatuhkan Teheran dalam waktu dekat.
Salah satu penopang utama ketahanan ekonomi Iran berasal dari minyak yang sudah lebih dulu berada di laut sebelum blokade mulai diterapkan oleh angkatan laut AS.
ADVERTISEMENT
Ratusan kapal tanker yang membawa muatan minyak mentah Iran masih bisa menjual komoditasnya ke pasar internasional sehingga aliran pemasukan tetap berjalan.
Dari kondisi ini, para analis memperkirakan Iran masih memiliki "napas" finansial yang cukup untuk bertahan selama beberapa bulan ke depan.
Analis kebijakan luar negeri, Kenneth Katzman, menjelaskan bahwa cadangan minyak yang sudah dikirim menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pemasukan negara tersebut.
"Berdasarkan pasokan itu, Iran masih bisa mendapatkan pemasukan hingga Agustus meskipun ada blokade," ujarnya dikutip dari media internasional pada Sabtu, 25 April 2026.
Artinya, sejak pertengahan April lalu, Iran kemungkinan masih mampu bertahan sekitar tiga hingga empat bulan ke depan.
Ketahanan ini tidak hanya bergantung pada minyak yang sudah berada di laut, tetapi juga pada langkah antisipatif yang telah disiapkan Teheran sejak jauh hari.
Iran diketahui memiliki cadangan minyak besar baik yang tersimpan di darat maupun yang mengapung di laut menggunakan kapal tanker tua.
Negara itu bahkan menggunakan kapal tanker tua sebagai fasilitas penyimpanan tambahan untuk mengatasi keterbatasan kapasitas penampungan di darat.
Selama masih ada ruang penyimpanan dan jalur distribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, pemasukan tetap bisa mengalir meski tidak sekuat sebelumnya.
Selain dari minyak, Iran juga mendapatkan pemasukan tambahan melalui kebijakan mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Dalam beberapa laporan, biaya yang dikenakan bisa mencapai jutaan dolar per kapal sehingga menjadi sumber dana alternatif di tengah tekanan blokade.
Meskipun demikian, kemampuan bertahan Iran jelas memiliki batas yang tidak bisa ditembus jika blokade berlangsung terlalu lama.
Jika blokade berlangsung lebih lama dan semakin ketat, kapasitas penyimpanan minyak Iran berisiko penuh dan produksi terpaksa dikurangi.
Tekanan ekonomi pun akan meningkat secara bertahap seiring waktu, bukan terjadi secara tiba-tiba seperti yang mungkin diharapkan Washington.
Menariknya, sebagian analis menilai Iran justru berpeluang bertahan lebih lama dibandingkan tekanan politik yang dihadapi Presiden Donald Trump di dalam negeri.
Iran sudah lama terbiasa menghadapi sanksi ekonomi berlapis, sementara kebijakan luar negeri AS sering dipengaruhi dinamika politik domestik yang cepat berubah.
Karena itu, strategi Iran diperkirakan adalah bertahan sekukuh mungkin sambil menunggu tekanan terhadap pihak lawan meningkat dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, Iran belum berada di ambang kehancuran dalam waktu dekat karena cadangan minyak besar dan strategi bertahan yang matang.
Negara tersebut diperkirakan masih mampu bertahan hingga beberapa bulan ke depan, bahkan kemungkinan sampai Agustus 2026.
Setelah itu, arah situasi akan sangat ditentukan oleh seberapa ketat blokade diterapkan serta bagaimana respons politik dan ekonomi dari kedua belah pihak.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok