Repelita Teheran - Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran memastikan bahwa Selat Hormuz saat ini berada di bawah pengawasan dan kontrol ketat negaranya hingga perang agresi AS-Israel sepenuhnya berakhir.
Pernyataan itu disampaikan Sekretariat SNSC Mohammad Bagher Zolghadr setelah kegagalan pihak agresor Amerika-Israel di medan perang dan permintaan AS untuk negosiasi melalui mediasi Pakistan.
ADVERTISEMENT
Meskipun sangat tidak mempercayai Amerika Serikat, delegasi Iran terlibat dalam negosiasi panjang namun akhirnya gagal karena pihak lawan mengajukan tuntutan tambahan yang ditolak Iran.
Oleh karena itu, kelanjutan negosiasi ditunda hingga pihak lain menyesuaikan pendiriannya dengan realitas medan perang, ujar Zolghadr dalam pernyataannya pada Sabtu, 18 April 2026.
Salah satu prasyarat penting penerimaan Iran atas gencatan senjata sementara adalah penghentian tembakan di semua front termasuk Lebanon, namun rezim Zionis melanggar hal ini sejak awal.
Atas desakan Teheran, rezim Zionis akhirnya menerima gencatan senjata di Lebanon, dan disepakati bahwa Selat Hormuz akan dibuka sementara hanya untuk kapal komersial.
Pembukaan bersyarat tersebut tidak berlaku untuk kapal militer atau kapal non-militer dari negara-negara musuh, dan semua transit harus berada di bawah kendali Angkatan Bersenjata Iran.
Zolghadr menegaskan pengawasan ketat Selat Hormuz penting dilakukan karena sebagian besar dukungan logistik untuk pangkalan militer AS di Teluk Persia disediakan melalui selat tersebut.
Republik Islam Iran dilaporkan kembali menutup akses Selat Hormuz untuk umum pada Sabtu, 18 April 2026, beberapa jam setelah sebelumnya sempat mengumumkan pembukaan penuh.
Teheran terpaksa mencabut kembali pengumuman tersebut karena perselisihan yang terus berlanjut dengan AS terkait blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menekankan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali ketat Angkatan Bersenjata Republik Islam.
Karena pelanggaran komitmen yang berulang dan sejarah perilaku buruk AS yang terus melakukan tindakan pembajakan laut dengan dalih blokade, kendali selat dikembalikan ke keadaan sebelumnya.
Keputusan ini berlaku sampai Amerika Serikat mengakhiri pembatasan pergerakan bebas kapal dari Iran, dan jika tuntutan itu tidak dipenuhi maka situasi Selat Hormuz akan tetap terkendali ketat.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah mengeluarkan ancaman keras akan menenggelamkan semua kapal perang AS sebagai respons terhadap blokade laut sejak 13 April 2026.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok