Berita, Timur Tengah

Iran Klaim Kemenangan Bersejarah atas AS, Washington Akhirnya Terima 10 Poin Termasuk Hak Pengayaan Uranium

Repelita.id

09 April 2026 21:20 WIB

Iran Klaim Kemenangan Bersejarah atas AS, Washington Akhirnya Terima 10 Poin Termasuk Hak Pengayaan Uranium
Foto: Istimewa

Repelita Teheran - Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu (8/4/2026) dini hari, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan sebuah kemenangan bersejarah atas Amerika Serikat.

Teheran mengklaim bahwa Washington akhirnya menerima kerangka 10 poin tuntutan Republik Islam secara keseluruhan.

ADVERTISEMENT

Mereka menyebut tekanan politik dan militer yang konsisten mampu memaksa Amerika Serikat mengubah sikapnya.

Klaim ini dinilai menjadi sinyal penting dalam dinamika konflik yang melibatkan kekuatan global selama ini.

Perkembangan tersebut berpotensi menjadi titik balik signifikan dalam ketegangan kawasan Timur Tengah.

Kabar mengejutkan ini datang di tengah eskalasi ketegangan yang sempat mengarah pada ancaman perang habis-habisan.

Pengumuman tersebut langsung memicu reaksi beragam di panggung dunia, mulai dari sambutan hangat negara-negara mediator hingga lonjakan optimisme di pasar global.

Pengumuman dramatis ini diawali dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang kesepakatan gencatan senjata dua sisi selama dua pekan.

Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa ia menyetujui untuk menangguhkan serangan terhadap Teheran.

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap permintaan darurat Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang memohon agar diplomasi diberikan kesempatan terlebih dahulu.

"Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Field Marshal Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta saya untuk menahan kekuatan destruktif yang dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Republik Islam Iran menyetujui PEMBUKAAN Selat Hormuz yang LENGKAP, SEGERA, dan AMAN, saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua pekan," tulis Trump.

Gencatan senjata ini secara otomatis membuka jalan bagi dimulainya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa selama masa perundingan, lintasan aman di selat strategis tersebut akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.

Puncak dari kesepakatan ini adalah klaim Iran bahwa Amerika Serikat tidak hanya menyetujui gencatan senjata, tetapi juga telah tunduk pada kehendak bangsa Iran dengan menerima 10 poin prinsip yang diajukan Teheran.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran merilis daftar tuntutan yang dipenuhi oleh AS yang mencakup komitmen terhadap non-agresi.

Teheran juga mempertahankan kendali penuh atas Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran strategis.

Amerika Serikat disebut mengakui hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium.

Semua sanksi primer dan sekunder AS dicabut termasuk terhadap entitas yang bekerja sama dengan Iran.

Semua resolusi Dewan Keamanan PBB yang merugikan Iran diakhiri.

Resolusi dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mengkritik Iran juga dibatalkan.

Amerika Serikat diwajibkan membayar ganti rugi atas kerugian selama perang.

Seluruh pasukan tempur AS ditarik dari kawasan Timur Tengah.

Konflik juga dihentikan di semua front termasuk dukungan untuk perlawanan di Lebanon.

Dewan Keamanan Nasional Iran dengan tegas menyatakan bahwa musuh dalam perangnya yang tidak terhormat dan kriminal telah menderita kekalahan bersejarah.

Keberhasilan diplomasi ini tidak lepas dari peran kunci Pakistan sebagai mediator.

Islamabad menjadi pihak yang membawa proposal 10 poin Teheran ke meja perundingan AS.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif yang mengundang kedua delegasi untuk berbicara di Islamabad menyebut perkembangan ini sebagai buah dari kebijaksanaan luar biasa kedua belah pihak.

"Kami sangat berharap perundingan Islamabad dapat menghasilkan perdamaian berkelanjutan dan membawa kabar baik dalam waktu dekat," tulis Sharif di media sosial X.

Sambutan positif juga datang dari Irak yang menyambut baik kesepakatan tersebut dan mendorong dialog berkelanjutan.

Australia memberikan apresiasi terhadap para mediator, sementara Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan semua pihak untuk mematuhi gencatan senjata.

Meskipun pengumuman ini disambut gembira, Dewan Keamanan Nasional Iran menegaskan bahwa gencatan senjata dan dimulainya negosiasi tidak berarti perang telah berakhir.

"Iran hanya akan menerima akhir perang ketika, sejalan dengan penerimaan prinsip-prinsip yang digariskan dalam rencana sepuluh poinnya, rinciannya juga diselesaikan dalam negosiasi," demikian bunyi pernyataan tegas tersebut.

Negosiasi teknis dijadwalkan akan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad dan akan berlangsung hingga dua pekan ke depan.

Respons pasar keuangan global langsung terlihat dengan harga minyak dunia mencatatkan penurunan seiring meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan.

Pasar saham global juga menguat, mencerminkan lega para investor atas meredanya ketegangan geopolitik.

Presiden Trump sendiri menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan yang lengkap dan absolut bagi Amerika Serikat.

Salah satu poin paling krusial dalam perjanjian ini adalah soal pengayaan uranium yang sebelumnya menjadi batu sandungan utama.

Jika benar AS menerima hak pengayaan Republik Islam, ini akan menjadi perubahan drastis dari kebijakan sebelumnya.

Dengan pencabutan sanksi dan penarikan pasukan AS, peta kekuatan geopolitik di Timur Tengah dipastikan akan berubah secara fundamental.

Semua mata kini tertuju pada Islamabad di mana masa depan perdamaian kawasan akan ditentukan di meja perundingan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung