Repelita Jakarta - Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat tidak hanya terjadi di medan perang dan Selat Hormuz, tetapi juga bergerak di ranah intelijen dalam negeri.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di tiga provinsi, yakni Azerbaijan Timur, Kerman, dan Mazandaran.
ADVERTISEMENT
Puluhan individu yang diduga terkait dengan Amerika Serikat, rezim Israel, dan Inggris Raya berhasil diamankan dalam operasi ini.
Operasi intelijen tersebut terjadi di tengah ketatnya gencatan senjata antara Republik Islam dan AS yang dijadwalkan berakhir dalam hitungan hari.
Teheran mengklaim bahwa jaringan-jaringan mata-mata ini sedang mempersiapkan kondisi untuk serangan militer musuh dari luar.
Salah satu operasi terbesar dilakukan di Provinsi Kerman, yang terletak di tenggara Iran dan memiliki kepentingan strategis sebagai pintu gerbang menuju wilayah timur.
Menurut laporan yang disitat dari Tasnim News, pasukan intelijen IRGC berhasil mengidentifikasi dan menangkap 51 individu di Kerman.
Para tersangka ini dituduh melakukan berbagai aktivitas berbahaya, termasuk pengumpulan intelijen untuk kepentingan musuh.
Mereka juga diduga mendirikan organisasi bersenjata dan sel-sel operasional serta melakukan provokasi kerusuhan.
Selain itu, mereka dituduh melakukan rekrutmen individu-individu lain untuk menciptakan kekacauan di masyarakat.
IRGC mengungkapkan bahwa mereka membongkar tiga tim mata-mata yang terkait dengan layanan intelijen musuh.
Mereka juga menemukan dua sel yang terafiliasi dengan ajaran Bahá'í yang oleh pemerintah Iran dianggap sebagai ajaran sesat.
Selain itu, IRGC membongkar sebuah sel operasional bersenjata yang terdiri dari empat orang yang terkait dengan kelompok monarki.
Mereka juga menangkap enam agen media yang terhubung dengan jaringan "Iran International" yang dituduh sebagai jaringan teroris.
Para individu ini, sambil berkomunikasi dengan "handler" asing, berusaha mengganggu stabilitas pasar dan merekrut orang untuk menghasut kekacauan.
Provinsi Azerbaijan Timur, yang berbatasan dengan negara-negara Kaukasus dan Turki, juga menjadi lokasi operasi penting.
Di provinsi ini, IRGC menangkap tujuh orang yang dituduh terkait dengan kelompok-kelompok teroris monarkis.
"Para tersangka ini tidak hanya terlibat dalam aksi sabotase bersenjata, tetapi juga mengirimkan koordinat lokasi-lokasi sensitif kepada pimpinan mereka di luar negeri," demikian pernyataan IRGC.
Ini merupakan operasi kedua dalam beberapa hari terakhir yang dilakukan oleh intelijen IRGC di provinsi tersebut.
Aparat keamanan menyita sejumlah senjata api, senjata tajam, serta perangkat komunikasi dari lokasi persembunyian para tersangka.
Provinsi Mazandaran, yang terletak di sepanjang pantai selatan Laut Kaspia, menjadi lokasi operasi dengan jumlah penangkapan terbanyak.
Di provinsi ini, IRGC mengidentifikasi dan menangkap 69 orang dari berbagai elemen.
Para tersangka ini terdiri dari individu-individu yang terkait dengan rezim Israel, elemen kelompok monarki, serta elemen pengkhianat dan tentara bayaran ekonomi.
IRGC juga menyita sejumlah senjata api, senjata tajam, serta peralatan komunikasi dari persembunyian mereka.
Para tersangka ini diduga terlibat dalam operasi sabotase dan aktivitas anti-pemerintah yang terkoordinasi dengan baik.
Menurut pernyataan resmi IRGC, aktivitas jaringan mata-mata ini sangat beragam dan terstruktur secara hierarkis.
Sel-sel ini terlibat dalam membangun jaringan komunikasi rahasia dan mendapatkan senjata untuk operasi bersenjata.
Mereka juga melakukan spionase, pengumpulan data intelijen, serta mengganggu stabilitas pasar melalui penyebaran rumor ekonomi.
Selain itu, mereka dituduh menyelundupkan barang secara ilegal dan menyebarkan desas-desus untuk menciptakan kepanikan publik.
Mereka juga diduga menghasut kerusuhan jalanan dan kekacauan sosial sebagai bagian dari persiapan serangan musuh.
IRGC menegaskan bahwa semua aktivitas ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan untuk serangan militer asing.
Dengan kata lain, Iran mengklaim jaringan mata-mata ini bukan sekadar pengumpul informasi pasif, tetapi agen aktif yang berusaha melemahkan Iran dari dalam.
Secara keseluruhan, operasi gabungan di tiga provinsi ini menghasilkan penangkapan total 127 orang.
Rinciannya, sebanyak 7 orang ditangkap di Azerbaijan Timur, 69 orang di Mazandaran, dan 51 orang di Kerman.
Sejak meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, aparat keamanan Republik Islam telah menahan ratusan orang yang diduga terkait jaringan spionase asing.
Operasi intelijen besar-besaran ini terjadi pada waktu yang sangat kritis, yaitu Sabtu, 18 April 2026.
Pada hari yang sama, IRGC mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup dan akan tetap di bawah kendali ketat angkatan bersenjata Iran.
Iran melakukan pembersihan internal di saat yang bersamaan dengan tekanan militer AS di laut lepas.
Langkah ini dapat dilihat sebagai strategi Iran untuk mengamankan "home front" di tengah potensi eskalasi konflik lebih lanjut.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat, Israel, maupun Inggris terkait klaim yang disampaikan oleh Iran tersebut.
Pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump biasanya merespons tuduhan semacam ini dengan pernyataan bahwa Iran selalu membuat klaim palsu.
Namun tanpa adanya bukti independen, sulit untuk memverifikasi kebenaran klaim Iran ini.
Pengumuman ini akan digunakan oleh Teheran untuk membenarkan tindakan keras keamanan internal dan meningkatkan retorika anti-Barat.
Pengumuman IRGC ini menjadi pengingat bahwa selain perang konvensional dengan rudal dan jet tempur, Iran dan lawan-lawannya juga terlibat dalam perang intelijen yang intens.
Sejak perang pecah pada 28 Februari 2026, Iran telah mengklaim telah menggagalkan sejumlah operasi sabotase dan spionase di dalam negeri.
Baru-baru ini, Israel juga mengungkap dugaan jaringan spionase yang beroperasi di dalam angkatan udaranya sendiri.
Dengan gencatan senjata yang akan segera berakhir, kedua belah pihak tampaknya berlomba memposisikan diri sekuat mungkin di semua lini.
Operasi intelijen besar-besaran oleh IRGC menunjukkan bahwa Iran tidak hanya bersiap menghadapi serangan militer dari luar, tetapi juga membersihkan ancaman dari dalam.
Penangkapan 127 orang yang dituduh terkait dengan AS, Israel, dan Inggris adalah pesan jelas bagi Washington dan Tel Aviv.
Pesan tersebut adalah bahwa Iran tahu apa yang direncanakan musuh dan siap untuk menggagalkannya.
Dengan gencatan senjata yang berakhir dalam hitungan hari, dunia kini bertanya apakah ini hanya awal dari serangkaian operasi keamanan internal.
Atau apakah ini bagian dari persiapan Iran untuk menghadapi babak baru konflik bersenjata dengan AS dan sekutunya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok