Repelita Teheran - Iran resmi mengizinkan kapal-kapal milik Irak untuk melintasi Selat Hormuz di tengah tekanan besar dari Amerika Serikat terkait kebijakan blokade jalur energi global tersebut.
Kebijakan longgar ini diumumkan oleh Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran sebagai bentuk penghormatan terhadap kedaulatan negara tetangganya, Irak.
ADVERTISEMENT
Dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita Tasnim, Iran menegaskan bahwa hanya negara-negara yang dianggap musuh saja yang tetap dikenai pembatasan akses di selat strategis tersebut.
"Kami sangat menghormati kedaulatan nasional Irak. Irak adalah bangsa yang menanggung luka pendudukan Amerika, dan perjuangan Irak melawan Amerika Serikat patut dipuji dan dikagumi," kata komandan militer Iran sebagaimana dilansir Al-Jazeera.
Pernyataan resmi dari Teheran ini berpotensi membuka kembali jalur pengiriman hingga tiga juta barel minyak Irak per hari seperti yang dilaporkan oleh The Straits Times.
Langkah Iran ini muncul hanya beberapa hari setelah sebuah kapal kontainer milik Prancis dan kapal tanker asal Jepang berhasil melintasi jalur perairan yang sebelumnya tertutup tersebut.
Dua kapal itu tercatat sebagai pelintasan pertama oleh kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara Barat sejak konflik besar mendorong Iran secara efektif menutup akses Selat Hormuz.
Kebijakan Teheran ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendesak Iran untuk membuka akses Selat Hormuz atau segera membuat kesepakatan damai.
Trump bahkan memperingatkan akan ada konsekuensi besar dalam waktu 48 jam jika tuntutan ultimatum tersebut tidak dipenuhi oleh pemerintah Iran.
Namun, Iran dengan tegas menolak ultimatum yang dilayangkan AS dan menyebutnya sebagai ancaman yang tidak rasional serta tidak berdasar.
Sejak konflik berskala besar dengan AS dan Israel pecah pada akhir Februari 2026, Iran secara efektif membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Meskipun jumlah kapal yang melintas mulai menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir, volume perdagangan secara keseluruhan masih berada jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik meletus.
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa hanya 53 kapal yang melintasi selat tersebut dalam sepekan terakhir, angka ini naik dari 36 kapal pada pekan sebelumnya.
Namun angka tersebut masih mencatatkan penurunan lebih dari 90 persen jika dibandingkan dengan kondisi lalu lintas normal sebelum konflik berlangsung.
Gangguan di Selat Hormuz langsung memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global dengan harga minyak mentah Brent bertahan di atas 109 dolar AS per barel dalam beberapa hari terakhir.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa harga minyak dunia bisa melonjak lebih tinggi lagi jika jalur distribusi strategis ini tidak segera dibuka sepenuhnya untuk lalu lintas internasional.
Irak menjadi salah satu negara yang paling terdampak akibat kebijakan pembatasan ini karena produksi minyaknya turun drastis dari 4,3 juta barel per hari menjadi sekitar 1,2 juta barel.
Padahal, Irak merupakan produsen minyak terbesar keenam di dunia dengan kontribusi sekitar 4 persen terhadap total pasokan minyak global.
Meskipun Iran mulai melonggarkan akses bagi kapal-kapal Irak, pembatasan terhadap negara-negara lain menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda.
Selama konflik masih terus berlangsung, jalur energi paling vital di dunia ini tetap berada dalam bayang-bayang krisis yang berkepanjangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok