Berita, Timur Tengah

Iran Ancam Hancurkan Pipa Yanbu dan Fasilitas Fujairah, Targetkan Lumpuhkan Total Ekspor Minyak Timur Tengah

Repelita.id

21 April 2026 17:06 WIB

Iran Ancam Hancurkan Pipa Yanbu dan Fasilitas Fujairah, Targetkan Lumpuhkan Total Ekspor Minyak Timur Tengah
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dunia kembali diguncang peringatan perang setelah Iran secara terbuka mengancam akan melumpuhkan total ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah.

Target serangan Teheran bukan hanya Selat Hormuz yang sudah ditutup, tetapi juga jalur-jalur alternatif yang selama ini digunakan negara-negara Teluk.

ADVERTISEMENT

Laporan dari Tasnim yang dikenal dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengungkapkan rencana komprehensif Teheran untuk menghancurkan infrastruktur minyak negara-negara tetangga.

Jika ancaman ini benar-benar dieksekusi, dampaknya terhadap perekonomian global akan sangat dahsyat dan tidak terbayangkan.

Harga minyak dunia yang saat ini sudah melonjak di atas 95 dolar AS per barel berpotensi meroket ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Para analis bahkan menyebut skenario terburuk bisa menembus angka 200 dolar AS per barel dalam hitungan minggu.

Menurut laporan Tasnim yang dikutip oleh berbagai media internasional, Republik Islam telah menyusun daftar target strategis yang akan diserang jika perang kembali meletus.

Target pertama yang masuk dalam daftar adalah Pipa Minyak Yanbu di Arab Saudi.

Pipa Yanbu merupakan jalur vital Kerajaan Saudi untuk mengirimkan hingga 7 juta barel minyak per hari melintasi gurun menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Dari Yanbu, minyak tersebut kemudian dikapalkan ke Eropa dan Amerika melewati Selat Bab el-Mandeb.

Jika pipa ini hancur, Arab Saudi akan kehilangan satu-satunya jalur ekspor yang tersisa setelah Selat Hormuz ditutup.

"Target utama adalah pipa minyak Saudi Aramco di Yanbu. Ini adalah jalur yang digunakan untuk menghindari Selat Hormuz," demikian pernyataan dalam dokumen peringatan Teheran.

Target kedua dalam rencana serangan Iran adalah fasilitas Fujairah di Uni Emirat Arab.

Fujairah merupakan pelabuhan air dalam yang terletak di pesisir timur UEA, tepat di luar Selat Hormuz.

Fasilitas ini selama ini menjadi pusat penyimpanan dan pengiriman minyak terbesar di kawasan Timur Tengah.

Selama bertahun-tahun, Fujairah telah menjadi pintu belakang bagi negara-negara Teluk untuk mengekspor minyak tanpa harus melewati selat yang dikuasai Iran.

"Iran berencana menyerang fasilitas Fujairah di UEA, yang juga digunakan untuk menghindari Selat Hormuz," tulis Tasnim dalam laporannya.

Target ketiga adalah penutupan total Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia.

Setiap hari, sekitar 6,2 juta barel minyak melewati jalur strategis ini menuju Eropa dan Amerika.

Selama ini Iran tidak terlalu fokus pada Bab el-Mandeb, namun kali ini situasinya berbeda.

Tasnim melaporkan bahwa Iran akan menutup total selat tersebut jika perang benar-benar pecah.

"Penutupan Bab el-Mandeb akan secara efektif memutus satu-satunya rute ekspor minyak yang tersisa bagi Arab Saudi," demikian analisis South China Morning Post.

Ancaman Iran kali ini berbeda dari sebelumnya karena bukan sekadar retorika perang belaka.

Ini adalah sebuah rencana terkoordinasi untuk melumpuhkan seluruh infrastruktur energi Timur Tengah secara sistematis.

Target-target yang dipilih Iran menunjukkan pemahaman mendalam tentang kerentanan ekonomi negara-negara Teluk.

Mereka tahu persis di mana letak titik lemah musuh-musuhnya dan bagaimana cara menghancurkannya.

Ancaman ini datang saat Iran sudah dalam posisi terdesak setelah AS menyita kapal kargo TOUSKA di Laut Oman pada Ahad (19/4).

Iran pun menuntut balas dan mengatakan akan mencabut pengendalian diri yang selama ini mereka tunjukkan.

"AS terus mempersiapkan kelanjutan perang sambil secara publik menyatakan kesiapan mereka untuk bernegosiasi," demikian pernyataan Tasnim.

"Iran siap untuk 'meninggalkan pengendalian diri' yang ditunjukkan pada fase pertama perang dan meluncurkan 'jam-jam neraka yang tak terlupakan' sejak awal konflik yang diperbarui dengan Amerika dan Israel."

Pasar minyak sudah bereaksi keras terhadap eskalasi terbaru ini.

Pada perdagangan Senin (20/4), harga minyak mentah Brent melonjak 5,5 persen ke level 95,32 dolar AS per barel.

Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 6 persen ke 87,56 dolar AS per barel.

Namun para analis memperingatkan bahwa kenaikan ini hanyalah permulaan dari gejolak yang jauh lebih besar.

Jika Iran benar-benar menyerang Yanbu dan Fujairah sekaligus menutup Bab el-Mandeb, lebih dari 20 juta barel per hari akan terputus dari pasar global.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen dari total suplai minyak dunia setiap harinya.

"Kami memperkirakan harga minyak bisa melonjak ke kisaran 150-200 dolar AS per barel dalam hitungan minggu jika skenario terburuk terjadi," kata seorang analis energi kepada Reuters.

Sejauh ini, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab belum memberikan respons resmi terhadap ancaman Iran tersebut.

Namun sumber-sumber intelijen menyebutkan bahwa kedua negara telah meningkatkan status siaga militer mereka.

Pangkalan militer AS di wilayah Teluk juga dilaporkan dalam kondisi siaga tinggi menghadapi potensi serangan.

Kapal-kapal perusak rudal terarah AS telah dikerahkan untuk melindungi infrastruktur minyak Saudi dan UEA.

Sementara itu, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman juga disebut-sebut akan dilibatkan untuk menyerang target-target di Arab Saudi dari selatan.

"Ancaman ini menunjukkan bahwa Iran benar-benar serius ingin mengubah peta geopolitik energi dunia. Mereka siap menghancurkan segalanya," ujar seorang pengamat Timur Tengah.

Dunia saat ini sedang tidak dalam posisi yang baik untuk menghadapi guncangan harga minyak yang dahsyat.

Inflasi global masih tinggi, suku bunga masih naik, dan pertumbuhan ekonomi banyak negara masih lesu pasca pandemi.

Krisis energi baru akan menjadi pukulan telak bagi pemulihan ekonomi yang sudah berjalan lambat.

Negara-negara Eropa yang sudah bergulat dengan krisis energi akibat perang di Ukraina akan menjadi yang paling terdampak.

Amerika Serikat pun tidak akan luput dari imbasnya karena harga bensin yang melonjak bisa menjadi bom waktu politik.

Ancaman Iran ini bukan sekadar gertakan kosong untuk menakut-nakuti lawan.

Ini adalah panggilan bangun bagi seluruh dunia bahwa perang di Timur Tengah telah memasuki fase yang jauh lebih berbahaya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung