Berita, Timur Tengah

Intelijen AS Bantah Klaim Trump, Iran Dinilai Masih Punya Ribuan Rudal dan Drone

Repelita.id

22 April 2026 23:28 WIB

Intelijen AS Bantah Klaim Trump, Iran Dinilai Masih Punya Ribuan Rudal dan Drone
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Intelijen Amerika Serikat meyakini bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer yang signifikan untuk melanjutkan perang jika perundingan damai yang sedang berlangsung menemui jalan buntu.

Fakta mengejutkan ini diungkap oleh stasiun televisi NBC News yang mengutip keterangan langsung dari anggota Kongres yang telah mendapat pengarahan rahasia dari komunitas intelijen pertahanan.

ADVERTISEMENT

Data intelijen tersebut disampaikan kepada Kongres di tengah klaim berulang dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang menyatakan telah melenyapkan kemampuan pertahanan dan serangan Iran.

Perang antara AS dan Iran telah berlangsung selama 40 hari sejak tanggal 28 Februari, dengan Trump berulang kali mengklaim kemenangan besar di medan tempur.

Menurut laporan NBC News yang terbit pada 22 April 2026, temuan komunitas intelijen pertahanan menunjukkan data yang sangat kontras dengan narasi yang disampaikan oleh Trump.

Kontras yang tajam juga terlihat antara laporan intelijen dengan pernyataan Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang ikut mengkampanyekan keberhasilan militer AS.

Keduanya selama ini menegaskan bahwa militer Iran telah menderita kerugian yang tidak bisa dipulihkan dalam waktu dekat pasca pertempuran sengit baru-baru ini.

Namun laporan intelijen membantah klaim tersebut dengan menunjukkan fakta bahwa Iran masih memiliki persediaan senjata yang sangat besar.

Direktur Badan Intelijen Pertahanan Pentagon, Letnan Jenderal James Adams, dalam laporannya menyatakan bahwa Iran memiliki ribuan rudal dan drone yang siap pakai.

Persenjataan tersebut dinilai masih mampu menimbulkan ancaman serius bagi pasukan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya yang berada di kawasan Timur Tengah.

Temuan ini secara langsung bertentangan dengan klaim Trump yang menyatakan bahwa AS memegang kendali penuh atas wilayah udara Iran.

Dengan kendali penuh tersebut, Trump sebelumnya mengklaim bahwa militer AS dapat dengan leluasa menghancurkan fasilitas-fasilitas industri pertahanan Iran.

Target-target yang diklaim telah hancur termasuk pabrik-pabrik produksi senjata serta berbagai lokasi peluncuran rudal strategis milik Teheran.

Namun data intelijen justru menunjukkan bahwa infrastruktur pertahanan Iran masih berfungsi dan kemampuan rudalnya masih sangat mengancam.

Para anggota Kongres yang menerima pengarahan tersebut dilaporkan terkejut dengan kesenjangan yang begitu lebar antara narasi resmi pemerintah dengan fakta di lapangan.

Beberapa anggota Kongres bahkan meminta penjelasan lebih lanjut mengapa informasi yang disampaikan kepada publik sangat berbeda dengan data intelijen.

Situasi ini semakin memperumit upaya diplomasi yang sedang berlangsung di Pakistan untuk mengakhiri konflik antara AS dan Iran.

Iran sendiri sebelumnya telah menolak untuk hadir dalam perundingan damai putaran kedua sebagai protes atas blokade laut yang dilakukan militer AS.

Ketua Parlemen Iran, Muhammad Bagher Qalibaf, bahkan mengancam akan mengeluarkan "kartu baru" di medan perang jika negosiasi gagal total.

Pakar militer Yuri Lyamin memperkirakan bahwa kartu baru tersebut bisa berupa rudal balistik jarak jauh, drone kamikaze, atau senjata anti-kapal baru.

Laporan intelijen AS yang bocor ini semakin mengonfirmasi bahwa Iran tidak akan mudah ditaklukkan meskipun sudah berperang selama 40 hari.

Para analis militer menilai bahwa AS mungkin terlalu cepat menarik kesimpulan tentang kemenangan di medan perang melawan Iran.

Iran dikenal memiliki jaringan pabrik senjata bawah tanah yang luas dan sulit dijangkau oleh serangan udara konvensional.

Selain itu, Iran juga disebut telah berhasil membangun kembali infrastruktur yang rusak dengan kecepatan yang mengesankan selama dua minggu terakhir.

Mereka juga gencar mengisi kembali kebutuhan pokok mulai dari makanan, obat-obatan, hingga bahan bakar untuk keperluan perang.

Pembersihan ranjau di jalan dan pintu masuk terowongan dekat pangkalan rudal bawah tanah juga terus dilakukan secara masif.

Yang terpenting, Iran mempercepat produksi militer di pabrik-pabrik bawah tanah yang tidak dapat dijangkau oleh jangkauan serangan AS.

Dengan fakta-fakta ini, publik kini mempertanyakan kredibilitas narasi resmi pemerintah AS tentang sejauh mana keberhasilan militer mereka di Iran.

Gedung Putih belum memberikan respons resmi atas bocornya laporan intelijen yang kontradiktif dengan klaim Trump selama ini.

Sementara itu, Iran menyambut baik laporan tersebut sebagai bukti bahwa klaim kemenangan AS hanyalah propaganda belaka.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung