Berita, Nasional

Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tangguh Hadapi Gejolak Energi Global

Repelita.id

22 April 2026 22:54 WIB

Indonesia Peringkat Kedua Negara Paling Tangguh Hadapi Gejolak Energi Global
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Indonesia mencatatkan pencapaian yang sangat signifikan di tengah ketidakpastian energi global yang melanda berbagai negara di dunia.

Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh lembaga keuangan raksasa JP Morgan bertajuk Pandora's Bog: The Global Energy Shock of 2026 pada Maret 2026, Indonesia menduduki peringkat kedua dunia.

ADVERTISEMENT

Negara ini dinilai sebagai negara paling tangguh dalam menghadapi gejolak energi, khususnya di sektor minyak dan gas bumi.

Laporan tersebut menganalisis sebanyak 52 negara dengan konsumsi energi final terbesar yang secara kolektif mencakup 82 persen penggunaan energi global.

Dari hasil kajian yang mendalam itu, Indonesia dinilai memiliki tingkat ketahanan energi tertinggi, berada tepat di bawah Afrika Selatan.

Ketahanan ini diukur menggunakan indikator yang disebut total insulation factor, yaitu gabungan berbagai sumber energi domestik.

Sumber-sumber tersebut meliputi gas alam, batu bara, energi terbarukan, hingga tenaga nuklir yang membuat suatu negara lebih tahan terhadap fluktuasi pasar.

Dalam hal ini, Indonesia dinilai memiliki fondasi energi yang sangat solid dan terdiversifikasi dengan baik.

JP Morgan juga menyoroti peran besar dari produksi batu bara dalam negeri dalam menjaga stabilitas energi nasional selama ini.

“Negara seperti China, India, Indonesia, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina mendapat manfaat dari produksi batu bara domestik yang signifikan selama terjadi guncangan energi,” tulis laporan JP Morgan yang dikutip pada Rabu, 22 April 2026.

Indonesia memperoleh keuntungan besar dari kapasitas produksi batu bara yang sangat besar dan relatif tidak terpengaruh oleh volatilitas harga minyak global.

Selain itu, Indonesia juga tercatat sebagai eksportir batu bara termal terbesar di dunia serta produsen gas alam yang cukup penting di kawasan Asia.

Pada tahun 2024, Indonesia berada di peringkat ke-13 sebagai produsen gas alam terbesar dunia dengan total produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik.

Sebaliknya, laporan JP Morgan menunjukkan bahwa sejumlah negara maju justru termasuk yang paling rentan terhadap gejolak energi.

Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda dinilai memiliki tingkat kerentanan yang tinggi karena ketergantungan pada impor.

Ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas menjadi faktor utama kerentanan negara-negara tersebut, terutama di tengah ketidakpastian jalur distribusi global.

Ketidakstabilan di kawasan penghasil energi seperti Selat Hormuz turut memperburuk posisi negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

Temuan ini menegaskan bahwa diversifikasi sumber energi merupakan strategi utama yang harus dijalankan dalam menghadapi tekanan global.

Selain Indonesia, negara seperti India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina juga memperoleh manfaat dari struktur energi domestik yang kuat.

Sementara itu, beberapa negara lain meningkatkan ketahanan energi mereka melalui pendekatan yang berbeda dari Indonesia.

Prancis, Swedia, Swiss, dan Republik Ceko misalnya, mengandalkan pemanfaatan energi nuklir sebagai tulang punggung ketahanan energi nasional.

Adapun negara dengan porsi energi terbarukan yang tinggi seperti Brasil, Austria, dan Portugal juga menunjukkan tingkat ketahanan yang baik.

Laporan JP Morgan ini menjadi semacam wake-up call bagi negara-negara yang masih sangat tergantung pada impor energi.

Bagi Indonesia, capaian ini merupakan pengakuan internasional atas kebijakan energi yang selama ini dijalankan pemerintah.

Para pengamat menilai bahwa posisi strategis Indonesia sebagai produsen batu bara dan gas alam memberikan keuntungan ganda.

Di satu sisi, Indonesia dapat memenuhi kebutuhan energi domestik, di sisi lain surplus produksi dapat diekspor untuk menambah devisa negara.

Namun tantangan ke depan tetap ada, terutama terkait dengan transisi menuju energi hijau yang lebih berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia diharapkan dapat mempertahankan ketahanan energi sambil secara perlahan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Publik pun menyambut baik capaian ini sebagai bukti bahwa Indonesia mampu bersaing dan bertahan di tengah krisis global yang berkepanjangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung