Berita, Nasional

Idrus Marham Minta Anies Baswedan Stop Sebar Narasi Pesimistis Terkait Tekanan Ekonomi Global

Repelita.id

24 May 2026 15:31 WIB

Idrus Marham Minta Anies Baswedan Stop Sebar Narasi Pesimistis Terkait Tekanan Ekonomi Global
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ajakan untuk merajut semangat persatuan di tengah fluktuasi finansial global disampaikan oleh jajaran elit partai politik kepada seluruh tokoh pergerakan nasional, termasuk mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham menilai penyampaian gagasan korektif di ruang publik merupakan hak konstitusional yang dijamin penuh dalam iklim keterbukaan ketatanegaraan saat ini.

ADVERTISEMENT

Kendati demikian, dirinya mengingatkan bahwa setiap evaluasi yang dialamatkan kepada otoritas eksekutif hendaknya dibarengi dengan tawaran formula solusi konkrit agar tidak memicu kecemasan sosiologis di tingkat akar rumput.

“Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Tapi kritik juga harus menghadirkan optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat semakin cemas menghadapi keadaan,” kata Idrus kepada wartawan di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Tanggapan normatif tersebut sengaja dilayangkan guna merespons materi visual yang diunggah oleh mantan menteri pendidikan melalui akun media sosial pribadinya pada pertengahan pekan ini.

Dalam tayangan digital tertanggal 20 Mei 2026 tersebut, sang tokoh oposisi menguraikan sejumlah problematika domestik mulai dari depresiasi nilai tukar mata uang hingga pelemahan daya beli komoditas masyarakat.

Merespons paparan tersebut, Idrus Marham menilai bahwa perlambatan roda ekonomi merupakan fenomena makro yang wajar dan tengah melanda hampir seluruh yurisdiksi negara di dunia.

Kondisi penuh tantangan tersebut dinilai terjadi akibat adanya eskalasi ketegangan geopolitik internasional serta kebijakan pengetatan moneter dari bank sentral negara adidaya yang memicu penguatan mata uang asing.

“Hatta Amerika pun mengalami kondisi yang sama!” ujar Idrus.

Dirinya meminta semua pihak untuk memandang fluktuasi nilai ekonomi sebagai bagian dari dinamika siklus pasar yang lumrah terjadi dalam struktur perdagangan global.

“Semua pasti berada dalam skema yang dinamis-fluktuatif. Kadang naik, kadang turun, itu biasa. Jangan dicemaskan menjadi narasi yang menciutkan nyali,” paparnya.

Ia mengkhawatirkan apabila para pemimpin opini secara masif memproduksi narasi pesimistis, hal tersebut dapat memberikan dampak psikologis negatif terhadap iklim investasi serta tingkat kepercayaan pasar domestik.

“Kalau elite politik terus berbicara seakan-akan negeri ini runtuh, pasar bisa terganggu dan rakyat kehilangan kepercayaan diri. Padahal bangsa ini sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan menghadapi krisis besar,” katanya.

Oleh sebab itu, dirinya menekankan pentingnya kehadiran pola kepemimpinan yang mampu memberikan ketenangan publik di tengah ketidakpastian situasi geopolitik global yang belum mereda.

“Rakyat butuh energi positif, bukan ketakutan yang diproduksi terus-menerus. Jangan sedikit-sedikit menggambarkan Indonesia gelap. Kita harus serius menghadapi masalah, tapi juga harus yakin bangsa ini punya kekuatan untuk bangkit,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, dirinya memberikan apresiasi terhadap pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto yang dinilai membawa tradisi keterbukaan informasi baru di hadapan sidang paripurna parlemen.

Langkah kepala negara yang memaparkan potret rill kondisi kas negara secara transparan dianggap sebagai undangan terbuka bagi seluruh komponen bangsa untuk menghadapi tantangan dengan sikap rasional.

“Beliau datang secara terbuka dan blak-blakan menjelaskan bagaimana potret riil ekonomi Indonesia hari ini. Itu artinya beliau mengajak kita memahami persoalan dan merespons tantangan dengan positif dan optimisme,” tuturnya.

Sebelumnya, melalui publikasi digital pada akun instagram pribadi miliknya, Anies Baswedan menjabarkan bahwa lapisan masyarakat bawah saat ini tengah memikul beban pemenuhan kebutuhan yang kian berat.

“Nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat menurun, dan banyak keluarga merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari,” kata Anies.

Mantan calon presiden tersebut menegaskan bahwa kompilasi data yang disampaikannya ke ruang publik sama sekali tidak ditujukan untuk membangun kepanikan massal melainkan sebagai bentuk pengingat.

“Saya menyampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai ajakan agar kita semua lebih peka terhadap keadaan,” ujar Anies.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung