Berita, Nasional

Hubungan Retak Afrika Mulai Berbalik Khianati dan Tinggalkan Kerja Sama Militer Rusia

Repelita.id

15 May 2026 14:44 WIB

Hubungan Retak Afrika Mulai Berbalik Khianati dan Tinggalkan Kerja Sama Militer Rusia
Foto: Istimewa

Repelita Moskow - Dinamika politik internasional kembali memanas setelah munculnya laporan mengenai pergeseran peta kemitraan strategis global di kawasan benua hitam yang berdampak sangat signifikan pada posisi tawar geopolitik Kremlin.

Sejumlah negara di wilayah Afrika dilaporkan mulai meninjau ulang komitmen kerja sama keamanan dan militer yang selama ini dijalin secara intensif dengan pemerintah Federasi Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin.

ADVERTISEMENT

Langkah evaluasi dan perubahan haluan geopolitik ini dinilai oleh sejumlah pengamat internasional sebagai salah satu bentuk tekanan diplomatik serta pukulan telak bagi pengaruh luar negeri Moskow yang tengah memperluas cengkeramannya di jalur Sahel.

Pemicu keretakan hubungan diplomatik tersebut disinyalir berkaitan erat dengan ketidakpuasan mendalam mengenai pola penempatan serta keterlibatan sejumlah warga negara asing dalam koridor operasi militer di wilayah Eropa Timur.

Berdasarkan investigasi serta laporan yang berkembang, banyak pemuda dari kawasan regional tersebut yang awalnya dijanjikan posisi pekerjaan formal di bidang pengamanan komersial dengan kompensasi tinggi justru dialihkan ke garis depan pertempuran.

Kondisi tersebut memicu gelombang protes keras dari otoritas diplomatik di beberapa ibu kota negara Afrika yang merasa warganya telah menjadi korban manipulasi informasi dan eksploitasi oleh jaringan perekrutan internasional.

Menanggapi memanasnya polemik perekrutan warga asing tersebut, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memberikan klarifikasi resmi mengenai status hukum para personel non-Rusia yang terlibat dalam operasi militer khusus.

"Namun, ia membantah adanya perekrutan paksa dan menegaskan bahwa semua relawan bergabung secara sah," kata Sergey Lavrov menepis tudingan adanya pemaksaan ataupun penipuan sistematis terhadap para pekerja asing.

Pernyataan pembelaan senada juga disampaikan oleh juru bicara resmi Kremlin yang menegaskan ketidaktahuan pihak otoritas pusat Moskow mengenai praktik-praktik manipulatif dalam agen penyalur tenaga kerja.

Kendati demikian, gejolak di internal negara sekutu tetap tidak dapat dihindarkan setelah beberapa kepala negara secara terbuka membawa isu perlindungan warga negara ini dalam meja perundingan bilateral tingkat tinggi.

Di sisi lain, kubu oposisi internasional memanfaatkan momentum ini untuk mereduksi pengaruh korps militer swasta Rusia yang selama ini memegang kendali atas beberapa konsesi sumber daya alam penting di Afrika.

Perubahan sikap politik yang drastis ini diprediksi akan mengubah konstelasi dukungan suara di forum-forum multilateral PBB, di mana blok Afrika sebelumnya dikenal cenderung mengambil posisi netral atau abstain terhadap kebijakan luar negeri Moskow.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung