Repelita [Jakarta] - Tanggapan dari seorang pemuka agama turut mewarnai perbincangan hangat mengenai kritik atas intensitas perjalanan luar negeri yang dilakukan oleh kepala negara.
Silang pendapat ini bermula dari analisis tajam seorang mantan diplomat papan atas mengenai efektivitas kunjungan kenegaraan ke Eropa Barat yang baru saja terlaksana.
ADVERTISEMENT
Melalui pernyataan tertulis di platform digital X pada Selasa (2/6), tokoh agama tersebut menilai masukan yang dilemparkan oleh sang diplomat senior merupakan hal yang wajar.
Fungsi kontrol dan evaluasi semacam itu dipandang sebagai masukan berbobot yang idealnya disuarakan oleh para wakil rakyat di parlemen.
Akan tetapi, sorotan utama justru diarahkan pada substansi pembelaan yang dikeluarkan oleh sekretaris kabinet dalam merespons kritik tersebut.
“Pak @dinopattidjalal cuma mengingatkan Presiden sesuai dgn kapasitasnya sebagai diplomat senior (tugas ini sebenarnya harus dilakukan DPR, tapi you know lah),” tulisnya di akun X @Hilmi28, dikutip Selasa (2/6).
“Point2nya juga sangat bagus & berisi. Tapi kenapa dijawab dengan nada julid sampai membawa2 ‘cuma 3 bulan jadi Wamenlu’. Duh... sekaliber Pak Dino dibegitukan... Astaghfirullah,” ungkapnya.
Pernyataan dari pihak istana dinilai memicu kekeliruan baru karena menyebutkan adanya talangan dana personal dari kantong sang presiden untuk membiayai operasional dinas.
Skema pembiayaan mandiri untuk agenda resmi kepresidenan itu dianggap bertentangan dengan asas baku pengelolaan anggaran belanja negara.
“Belum jawaban blunder tentang Presiden nombokin biaya perjalanan ke LN pakai uang pribadi... ini sungguh menyalahi tata kelola keuangan negara,” jelasnya.
“Negara seharusnya tidak bergantung pada kemampuan finansial pribadi pejabatnya,” sambungnya.
“Sistem pemerintahan dirancang agar kegiatan kenegaraan tetap berjalan siapa pun presidennya dan berapa pun kekayaan pribadinya. Belum lagi hal ini pasti menimbulkan pertanyaan akuntabilitas dll,” tuturnya.
Klarifikasi dari internal kesekretariatan itu dinilai justru memicu polemik baru yang memicu reaksi berantai dari para pengguna internet di tanah air.
Fokus perhatian publik yang semula mengarah pada narasi pidato kenegaraan kini beralih menjadi pembahasan mendalam seputar transparansi anggaran logistik dinas.
“Kemarin saya kira netizen bakalan sibuk ngomentarin pidato Presiden (syukurlah beliau baca teks), tapi ternyata dpt tugas baru; ngomentarin klarifikasinya Seskab Teddy ,” terangnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok