Repelita [Jakarta] - Bekas Penasihat Polri Profesor Hermawan Sulistiyo memproyeksikan potensi bentrokan kemasyarakatan di Tanah Air berisiko melonjak bilamana himpitan hidup publik tak kunjung diurai.
Sosok yang karip disapa Kikiek tersebut menyoroti akumulasi kekesalan warga yang dipicu oleh lonjakan tarif listrik serta jeratan beban pajak hingga mahalnya dana pendidikan.
ADVERTISEMENT
Meski demikian ia menilai belum terdapat satu isu tunggal yang sanggup mengkristalkan seluruh kemarahan masyarakat secara meluas.
"Sekarang pertanyaan publik, kenapa mal dipasang pagar? Orang marah karena listrik naik, pajak, sekolah, tetapi belum ada isu tunggal yang menyatukan semua kemarahan itu," kata Kikiek dalam podcast bersama Mahfud MD.
Risetwan senior purnatugas Badan Riset dan Inovasi Nasional itu membeberkan bahwa letupan emosi massa saat ini masih beroperasi dalam skala kewilayahan.
Manifestasinya terlihat dari pertikaian antawarga serta perkelahian di ruang jalanan yang makin acap dijumpai pada ragam titik.
"Meletupnya masih kecil-kecil. Hari ini senggolan motor di jalan, tawuran, itu terjadi di berbagai tempat di Jalan Tambak Menteng, kemarin di Surabaya. Makin lama, frekuensinya makin tinggi sampai isu-isunya mulai mengerucut dan baam," ujarnya.
Pakar ini memberi contoh wacana yang mulai menggelinding di benak awam mengenai persepsi kemunduran finansial negara yang kian parah.
Menurut kacamata sejarah akumulasi gejolak lokal dapat bermuara pada ledakan sosial berskala masif bilamana berbenturan pada satu titik waktu tertentu.
"Di sini sudah mulai kecil-kecil menuju ke sana. Lalu sampai tingkat yang tidak bisa ditahan dan meledak seperti 1998, kapan itu terjadi? Selama simpul-simpul persoalan ini bertemu, karena orang masih melihat 17 Agustus itu sakral, biasanya selesai Agustusan," katanya.
Kikiek menambahkan bahwa sejarah mencatat pemicu utama huru-hara besar bermula dari penumpukan komplikasi finansial serta kemasyarakatan dan tata kelola politik secara simultan.
Ia menumpuk perhatian pada tindakan proteksi tempat perbelanjaan yang mulai mendirikan barikade tinggi sebagai bentuk kekhawatiran terhadap instabilitas masa depan.
"Pemilik mal mulai ketakutan, sekarang dipagari semua, bahkan sudah ada yang kabur ke luar negeri," ujarnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok