Berita, Nasional

Henri Subiakto Bongkar Alasan Kecewa pada Jokowi dan Gibran Terkait Dampak Politik Dinasti rezim

Repelita.id

18 October 2026 19:44 WIB

Henri Subiakto Bongkar Alasan Kecewa pada Jokowi dan Gibran Terkait Dampak Politik Dinasti rezim
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Henri Subiakto mengungkap alasan di balik perubahan drastis pandangan politiknya.

Pihaknya menyoroti rekam jejak mantan Presiden Joko Widodo beserta putranya yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

ADVERTISEMENT

Pakar komunikasi tersebut mengaku dulunya merupakan seorang pengagum berat dari figur mantan Wali Kota Solo tersebut karena citra sederhananya.

"Saya kenal pak Jokowi sebelum beliau jadi presiden. Saya kagum dengan penampilannya yg sederhana. Halus tutur katanya, dan nampak kelihatan sabar. Pak Jokowi itu berbeda dengan elit politik lain. Dia bukan keturunan ningrat. Bukan keluarga pejabat. Dia hanya berasal dari rakyat biasa, seperti kebanyakan kita," tulis Henri Subiakto melalui akun X pribadinya yang diunggah pada Sabtu (17/10/2026).

Menurut pengamatan pribadinya atribut kesederhanaan itulah yang semula menempatkan mantan kepala negara sebagai representasi masyarakat kecil di Indonesia.

Kekaguman tersebut awalnya juga melekat pada sang anak sulung sewaktu dirinya belum masuk ke dalam lingkaran kekuasaan struktural.

"Daya tarik kesederhanaan Jokowi juga nampak dari penampilan kesederhanaan aktivitas anaknya, salah satunya Gibran. Sebagai anak presiden, Gibran dikesankan hanya sibuk bisnis martabak. Tidak tergantung kewenangan orang tua. Seolah Gibran tak mau berpolitik dan tak tertarik jabatan. Dia anak yang sederhana, sebagaimana bapaknya," lanjutnya.

Henri Subiakto bahkan membagikan kenangan personal saat dirinya berpapasan langsung dengan pengusaha kuliner itu di area bandara tanpa pengawalan protokoler.

"Sayapun pernah ketemu di bandara Solo, Gibran nampak tidak dikawal dan pergi ke Surabaya seperti rakyat biasa. Naik satu pesawat dengan saya. Sama sama kena delay dan sempat kehujanan. Itu membuat saya kagum, ternyata anak Presiden ini tidak minta difasilitasi khusus ataupun dikawal," jelasnya lagi.

Namun penilaian akademisi Universitas Airlangga ini berbalik arah ketika sang pebisnis martabak secara mendadak maju memperebutkan kursi Wali Kota Solo.

Dirinya mengendus adanya skenario terstruktur serta mengecam beban utang masif akibat program infrastruktur yang disinyalir menguntungkan kelompok oligarki tertentu.

"Tapi setelah Gibran jadi Walikota Solo, sayapun mulai curiga, terhadap agenda yg ada di belakangnya. Terlebih pembangunan infrastruktur yang dihasilkan pemerintahan Jokowi, ternyata banyak masalah dan menenggelamkan pemerintah ke dalam beban hutang yg sangat berat. Di era Jokowi terjadi ketergantungan ekonomi pada Oligarki dan cengkeraman asing yang mengkhawatirkan," ungkapnya.

"Apalagi saat kemudian Gibran terbaca diberi jalan dan difasilitasi bisa maju jadi calon Wakil Presiden di usianya yang masih sangat muda, dengan menabrak ketentuan UU. Hingga terjadi rekayasa regulasi untuk memfasilitasi anak ini. Karena merekayasa regulasi inilah saya sudah tidak percaya lagi dengan mekanisme Demokrasi yang memfasilitasi politik dinasti Jokowi," terangnya memungkasi tulisan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung