Repelita Jakarta - Isu yang menyebut Panglima Komando Pasukan Khusus (Pangkopassus) Letjen TNI Djon Afriandi menampar seseorang dari lingkungan Istana menghebohkan media sosial dalam beberapa hari terakhir.
Melalui akun media sosial resminya, Kopassus telah membuat dua unggahan berbeda yang secara tegas menyatakan bahwa kabar tersebut tidak benar.
ADVERTISEMENT
Warganet pun memberikan dukungan penuh kepada Kopassus untuk mengusut tuntas penyebar berita bohong alias hoaks itu.
Melalui kolom komentar akun Instagram @penkopassus, berbagai desakan bermunculan agar penyebar hoaks segera ditangkap oleh aparat.
"Bahaya sih ini, emang gak bisa di tangkap aja pak?." tulis akun @ibnni dengan nada kesal.
"Lacak Tangkap, apa gunanya BAIS kalau ga bisa tangkap." tulis akun @bd**db yang ikut mendesak.
"Bikin gaduh aja." kata akun @fatm28 menanggapi isu yang tidak jelas sumbernya.
"Baru tadi baca karangannya, komennya ngeri-ngeri banget haduh." tulis @saay14 mengaku terkejut dengan narasi yang beredar.
"Jaman makin canggih lacak orang makin gampang tangkap min kasih pelajaran…Kondisi lagi begini bikin gaduh saja. heran." desak akun @armana dengan tegas.
Kedua unggahan @penkopassus memuat tangkapan layar berisi konten akun medsos @retailman69 yang menceritakan perseteruan yang terjadi di Istana Negara.
”Waspada, sedang beredar kabar bohong yang menyeret nama petinggi TNI dan lingkungan Istana. Narasi ini mengklaim adanya keributan antara Pangkopassus dengan pihak protokoler. Ini hanyalah karangan yang tidak memiliki bukti valid,” bunyi unggahan akun medsos resmi Kopassus pada Selasa (21/4).
Dalam unggahan yang sama, akun media sosial resmi Kopassus meminta publik dan masyarakat tidak langsung percaya terhadap kabar yang beredar luas.
Mereka menegaskan bahwa informasi tersebut tidak memiliki sumber resmi dan terpercaya sama sekali.
Kopassus menduga bahwa informasi itu sengaja disebarkan untuk memicu kegaduhan di tengah masyarakat.
Tujuannya tidak lain adalah untuk memecah soliditas antar instansi negara.
Saat dikonfirmasi oleh awak media, Kepala Penerangan (Kapen) Kopassus Letkol Infanteri Yanuar menyatakan bahwa informasi yang beredar luas adalah hoaks atau berita palsu.
Kabar yang disebarkan oleh akun @retailman69 sama sekali tidak benar dan tidak berdasar.
Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya narasi yang menyebut Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya ditampar seorang jenderal TNI.
Isu tersebut ramai diperbincangkan usai diunggah akun @retailman69 dan menyebar luas ke berbagai platform media sosial.
"Dengar informasi si bunted digampar ya? Issuenya dia digampar sama Sjafrie," tulis unggahan tersebut, dikutip fajar.co.id, Selasa (21/4/2026).
Dalam narasi itu, disebutkan terjadi ketegangan saat Pangkopassus Letjen TNI Djon Afriandi dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo Subianto.
Akun tersebut menuliskan bahwa Pangkopassus sempat menunggu cukup lama di ruang tunggu meskipun telah memiliki jadwal resmi.
Disebutkan pula, Presiden Prabowo kemudian keluar ruangan dan menegur situasi yang terjadi saat itu.
Setelah itu, narasi liar tersebut mengklaim terjadi insiden penamparan terhadap pihak protokoler Istana.
Pihak protokoler itu dikaitkan dengan sosok Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet.
"Singkat cerita, keluar ruangan dengan muka merah Djon Afriandi langsung cari si bunted, dan begitu ketemu tanpa basa-basi langsung digampar sambil bilang kamu anak kecil mainin saya hah!," tukas narasi yang beredar.
Menanggapi isu yang berkembang cepat, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) langsung bergerak cepat memberikan klarifikasi.
Klarifikasi disampaikan melalui akun Instagram resmi mereka, @penkopassus, pada hari yang sama.
Dalam unggahan resminya, Kopassus menegaskan bahwa kabar tersebut adalah berita bohong atau fake news.
"Waspada sedang beredar kabar bohong yang menyeret nama petinggi TNI dan lingkungan Istana. Narasi ini mengklaim adanya keributan antara Pangkopassus dan pihak protokoler," tulis akun tersebut, Selasa (21/4/2026).
Kopassus juga meminta masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Menurut mereka, narasi yang beredar sengaja dibuat oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk memancing kegaduhan.
Narasi itu juga dinilai berbahaya karena berpotensi merusak soliditas internal lembaga negara.
"Faktanya ini hanyalah karangan yang tidak memiliki bukti valid. Informasi ini sengaja disebar untuk menciptakan kegaduhan dan memecah belah soliditas internal institusi negara," kuncinya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Ada yang bilang bukan syafri, tap Dankopassus
— ꦩꦸꦂꦠꦝ (@MurtadhaOne1) April 19, 2026
Mudah2an ini beneran ya https://t.co/hOPNP6aD3m pic.twitter.com/uCgOnZhMSy