Berita, Teknologi

[HEBOH] Kasus Keracunan MBG Disorot, Orang Tua, Guru dan Wartawan Disebut Jadi Kambing Hitam?

Repelita.id

14 September 2026 17:53 WIB

[HEBOH] Kasus Keracunan MBG Disorot, Orang Tua, Guru dan Wartawan Disebut Jadi Kambing Hitam?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah muncul pernyataan yang menyinggung peran orang tua, guru, dan wartawan dalam kasus keracunan yang terjadi di sejumlah daerah.

Informasi tersebut diunggah akun @waansyahda di Threads pada Senin, 14 September 2026, sekitar empat jam sebelum naskah ini ditulis.

ADVERTISEMENT

Dalam unggahannya, akun tersebut menyampaikan pernyataan yang dikaitkan dengan seorang kepala BGN dan mempertanyakan pihak yang dianggap bertanggung jawab atas persoalan MBG.

"Kata-kata hari ini mas Sudaryono?

"MBG tidak bermasalah, yang bermasalah Orang tuanya, guru, dan wartawan"

Kata Sorang kepala BGN🫵🏻🤣"

Unggahan itu kemudian menyoroti pola penyebutan pihak lain dalam setiap persoalan yang muncul, khususnya setelah adanya kasus keracunan yang dikaitkan dengan pelaksanaan program MBG.

"Kan udah sering sy jawab, setiap duduk persoalannya selalu ada kambing hitam. Dan sekarang atas kasus keracunan MBG."

Akun tersebut lalu mencantumkan tiga kelompok yang disebut dalam unggahannya, yakni guru, orang tua siswa, serta wartawan.

"1. GURU : TIDAK MENGONTROL MAKANAN YANG AKAN DI KONSUMSI SISWA

2. ORANG TUA SISWA : TERLALU OVER DALAM MEMBERIKAN PERHATIAN TERHADAP ANAKNYA.

3. WARTAWAN : MENCARI PEMBERITAAN YANG TIDAK RELEVAN DENGAN KEJADIAN SEBENARNYA.

Yeeeee👍"

Dalam unggahan lainnya sekitar satu jam sebelum naskah ini ditulis, akun yang sama merangkum sejumlah kejadian keracunan MBG yang disebut berlangsung dalam dua bulan terakhir.

Daftar tersebut mencakup Semarang dengan 707 siswa dan guru pada 31 Juli, Jayapura 543 siswa pada 4 Agustus, Berastagi 360 siswa pada 13 Agustus, serta Boyolali sebanyak 100 siswa dan guru pada 20 Agustus.

Selanjutnya tercantum Solo dengan 175 siswa pada 21 Agustus, Sidoarjo 668 santri pada 1 September, Nganjuk 100 siswa pada 3 September, serta Agam dengan 334 siswa, guru dan balita pada 2 September.

Daftar itu juga menyebut Tana Toraja sebanyak 150 siswa dan guru pada 3 September, Rembang 752 siswa pada 3 September, serta Jombang sebanyak 70 siswa pada tanggal yang sama.

Akun @waansyahda meminta daftar tersebut dikoreksi dan dilengkapi apabila masih terdapat kasus lain yang belum tercantum dalam unggahan.

"MOHON, Dikoreksi dan ditambahkan Jika masih ada yg belum tertulis di komentar."

Kemudian pada Senin, 14 September 2026 sekitar 23 menit sebelum naskah ini ditulis, akun tersebut kembali menyampaikan harapan agar kasus serupa tidak terus bertambah dan proses hukum segera dilakukan.

"Semoga tidak bertambah lagi kasus² lain, dan secepatnya ditetapkan tersangka atas keracunan generasi bangsa, serta mendapatkan pemulihan dan biaya yang harus ditanggung BGN dan negara,, fokus kita sekarang mau orang tua, guru kakak², adalah menjaga mental anak², adik² kita , jangan sampai ada trauma bagi mereka untuk tidak sekolah. Jika terus ada kesempatan untuk itu maka Harus sekolah!😊"

Rangkaian unggahan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan MBG tidak hanya menjadi pembahasan mengenai makanan dan pelaksanaan program, tetapi juga menyentuh persoalan tanggung jawab, penanganan korban, serta kondisi psikologis anak-anak yang terdampak.

Perhatian publik kini tertuju pada upaya memastikan keselamatan penerima manfaat, kejelasan penanganan setiap kasus, serta pemulihan bagi anak-anak dan pihak lain yang terdampak oleh kejadian keracunan tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



View on Threads

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung