Repelita [Jakarta] - Isu keretakan hubungan antara Presiden Prabowo Subianto dengan jajaran Kepolisian Republik Indonesia mencuat ke publik setelah munculnya kabar mengenai ketegangan akibat langkah penegakan hukum yang tidak terkoordinasi.
Presiden dikabarkan meluapkan kemarahan besar lantaran adanya aksi penggeledahan yang dilakukan oleh aparat tanpa sepengetahuan kepala pemerintahan, yang dinilai memiliki implikasi politik signifikan.
ADVERTISEMENT
Dalam sebuah narasi yang beredar luas, Presiden mempertanyakan motif di balik tindakan tersebut dengan kalimat yang sangat keras kepada jajaran terkait.
“Kalian mau sabotase pemerintahan saya?”
Merespons hal tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo disebut telah memberikan penjelasan bahwa penggeledahan dilakukan secara mendadak guna mencegah kebocoran informasi.
Meski Kapolri dikabarkan telah memohon maaf atas kesalahpahaman yang terjadi, rumor mengenai evaluasi terhadap jabatan Kapolri kini kian berhembus kencang di lingkungan Istana.
Nama Kabaharkam Polri Komjen Pol. Karyoto disebut-sebut masuk dalam bursa calon pengganti, meskipun Presiden masih mempertimbangkan berbagai aspek terkait loyalitas dan independensi.
Situasi makin kompleks dengan adanya laporan mengenai penebalan pasukan dalam rapat internal di kawasan Widya Chandra yang memicu kekhawatiran di lingkaran Istana.
Pihak Kepolisian sendiri secara tegas membantah bahwa langkah penambahan personel tersebut memiliki agenda untuk melemahkan pemerintahan yang sedang berkuasa.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi baik dari pihak Istana maupun Mabes Polri untuk mengonfirmasi validitas isu pergantian pimpinan maupun dugaan percakapan panas tersebut.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok