Berita, Viral Sosmed

[HEBOH] Dinding Kantor Sekretaris Kabinet Dipenuhi Foto Liburan, Firman Syah Kritik Etika Visual dan Profesionalisme Pejabat Negara

Repelita.id

01 June 2026 17:22 WIB

[HEBOH] Dinding Kantor Sekretaris Kabinet Dipenuhi Foto Liburan, Firman Syah Kritik Etika Visual dan Profesionalisme Pejabat Negara
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Publik tengah menyoroti dekorasi di ruang kerja Sekretaris Kabinet Republik Indonesia yang dinilai kurang tepat untuk lingkungan kantor lembaga negara.

Kritik masyarakat muncul setelah Firman Syah melalui unggahan di akun Facebook pribadinya menyoroti potret yang memperlihatkan foto-foto bernuansa liburan pribadi, seperti swafoto di Menara Eiffel, terpajang mencolok di dinding kantor tersebut.

ADVERTISEMENT

Foto tersebut menampilkan kedekatan antara Presiden Prabowo Subianto dengan sosok Teddy, yang memicu pertanyaan mengenai profesionalisme penggunaan fasilitas negara.

Banyak pihak membandingkan fenomena ini dengan etika birokrasi di negara lain yang menjaga batasan tegas antara ruang privat dan ruang kerja publik.

Di Jepang, pejabat sangat menghindari kesan bahwa kantor negara adalah perpanjangan dari kehidupan pribadi.

Sementara di Senegal, Presiden Bassirou Diomaye Faye bahkan secara konsisten menolak adanya kultus individu yang berlebihan.

Dalam pandangan Firman Syah, persoalan utama bukan terletak pada aspek hukum, melainkan pada pesan visual dan etika publik yang seharusnya diutamakan pejabat.

Politik adalah soal pesan visual.

Foto keluarga di meja kerja mengirim pesan bahwa seorang pejabat juga manusia biasa.

Foto kenegaraan mengirim pesan tentang tanggung jawab jabatan.

Tetapi deretan foto liburan yang dipajang mencolok di kantor negara bisa mengirim pesan berbeda: bahwa batas antara urusan pribadi dan urusan publik mulai kabur.

Kesan yang muncul dari pajangan tersebut dianggap berbahaya karena membuat publik mempertanyakan fokus utama dari jabatan yang diduduki.

Dinding kantor yang seharusnya mencerminkan kewibawaan institusi, justru kini lebih menonjolkan relasi personal yang sangat kental.

Meskipun pendukung menyebut hal itu sekadar kenang-kenangan, namun masyarakat berhak mengkritisi penggunaan ruang yang dibiayai oleh pajak rakyat tersebut. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (1)

W
Widyo Noegroho Koeswardono 01/06/2026

Satu kata " N O R A K "

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung