Repelita Jakarta - Akumulasi nilai aset kekayaan yang dimiliki oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dilaporkan sukses menembus angka fantastis sebesar Rp2,98 triliun pada penghujung tahun 2025.
Berdasarkan data resmi pembaharuan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara periodik 2025 yang diserahkan kepada komisi antirasuah pada tanggal 31 Maret 2026, jumlah kapital sang menteri mengalami lonjakan signifikan.
ADVERTISEMENT
Jika dikomparasikan dengan perolehan tahun 2024 yang berjumlah Rp2,44 triliun, maka terjadi lonjakan keuntungan bersih senilai Rp537,56 miliar atau tumbuh berkisar 22,03 persen dengan catatan beban utang nihil.
Pada sektor kepemilikan aset tidak bergerak, sang pejabat negara tercatat menguasai puluhan kapling tanah beserta bangunan dengan akumulasi nilai valuasi mencapai Rp118,53 miliar pada penutupan tahun lalu.
Meskipun secara kuantitas kepemilikan propertinya tersebar di 46 titik wilayah strategis seperti Bekasi hingga Buleleng, total valuasi sektor ini sejatinya mengalami penyusutan sekitar 17,20 persen dari posisi tahun lalu yang bernilai Rp143,15 miliar.
Beberapa aset properti unggulan yang dibeli dari kocek pribadi meliputi tanah di Sragen senilai Rp30,9 juta, bangunan di Cianjur seharga Rp897,98 juta, hingga rumah megah di Jakarta Selatan berbiaya Rp22,5 miliar.
Beralih pada isi garasi pribadinya, sang pembantu presiden melunasi kewajiban pelaporan tiga unit moda transportasi mesin dengan kalkulasi nilai total berjalan sebesar Rp1,41 milar.
Sektor otomotif ini juga mengalami koreksi harga sekitar 22 persen atau menyusut sebesar Rp399 juta jika dibandingkan dengan rilis data kendaraan tahun 2024 yang kala itu bertengger di angka Rp1,81 miliar.
Koleksi kendaraan operasionalnya meliputi sedan sport Audi RS 5 lansiran tahun 2015 seharga Rp800 juta, motor matic Honda Beat Solo tahun 2018 bernilai Rp3,25 juta, serta Mini Cooper S Countryman keluaran 2023 berstatus Rp611 juta.
Faktor utama yang menjadi penopang terbesar dari melesatnya akumulasi kekayaan sang menteri perikanan ternyata bersumber dari kepemilikan instrumen investasi berupa surat berharga di pasar modal.
Portofolio investasi saham dan obligasi milik sang pejabat meroket tajam hingga menyentuh Rp2,4 triliun dari yang semula hanya berada di angka Rp1,97 triliun pada pembukuan tahun fiskal sebelumnya.
Pertumbuhan masif pada sektor instrumen keuangan ini menyumbang margin keuntungan absolut sebesar Rp431,83 miliar bagi sang birokrat atau setara dengan laju kenaikan sekitar 21,98 persen dalam setahun.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok