Berita, Nasional

Gus Hilmi Desak Aparat Tangkap Abu Janda Usai Sebut Muslim Indonesia Barat Barbar dan Intoleran

Repelita.id

24 May 2026 16:47 WIB

Gus Hilmi Desak Aparat Tangkap Abu Janda Usai Sebut Muslim Indonesia Barat Barbar dan Intoleran
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gelombang kecaman publik kembali menerpa seorang pembuat konten kontroversial setelah rekaman pemaparannya mengenai dinamika kerukunan umat beragama di wilayah domestik memicu polemik luas di ruang siber.

Pernyataan dari Permadi Arya alias Abu Janda yang mengkategorikan karakteristik kemasyarakatan di sejumlah daerah berdasarkan pembagian wilayah geografis dinilai provokatif dan mencederai rasa persatuan nasional.

ADVERTISEMENT

Penuturan tersebut memicu reaksi keras serta teguran terbuka dari tokoh intelektual Islam yang menilai tuduhan tersebut tidak berdasar serta berpotensi mengganggu stabilitas sosial antar-golongan.

Dalam tayangan digital yang menjadi pusat perhatian netizen, ia menguraikan pandangan pribadinya mengenai tingkat kerentanan konflik keagamaan yang dianggapnya mengalami peningkatan dalam beberapa periode terakhir.

“Tiga tahun terakhir ini, bapak-bapak ibu-ibu, kristian fobia itu atau sentimen anti-kristian lah, itu lumayan parah di negara kita,” ujar Abu Janda.

Meskipun demikian, dirinya membedakan kondisi sosiologis antar-wilayah dengan mengklaim bahwa kawasan bagian tengah serta timur kepulauan nusantara memiliki tingkat toleransi yang jauh lebih aman.

“Tidak di semua wilayah, of course. Wilayah tengah, wilayah timur, lumayan kondusif,” tukasnya.

Sebaliknya, sang pembuat konten secara spesifik menunjuk kluster zonasi waktu bagian barat sebagai episentrum utama dari mencuatnya berbagai hambatan kebebasan berkeyakinan.

“Banyak kasus intoleransi itu terjadi di waktu Indonesia bagian barat, di WIB,” ucapnya.

Secara eksplisit, dirinya menyebutkan rentetan nama provinsi mulai dari wilayah administrasi Jawa Barat, Banten, Lampung, Sumatera Barat, Riau, hingga bagian utara Pulau Sumatera.

Ia melanjutkan argumentasinya dengan melabeli mayoritas pemeluk agama di beberapa daerah tersebut memiliki kecenderungan sikap keberagamaan yang jauh lebih kaku serta radikal.

“Jadi mungkin nih, umat islam di provinsi-provinsi ini mungkin memang lebih keras. Lebih fanatik dan lebih keras,” imbuhnya.

Sentimen negatif publik semakin memuncak tatkala dirinya menggunakan diksi bernada merendahkan untuk menganalogikan pola interaksi sosial kemasyarakatan di ranah Pasundan serta ranah Minang.

“Nah itu, yang satu di Jabar, satu lagi di Sumbar. Saya gak tau nih yang ada barbarnya ini,” Abu Janda menuturkan.

“Saya juga aneh gitu, yang ada barbarnya kok banyak orang barbar,” tambahnya.

Paparan subyektif tersebut langsung memancing kegeraman dari cendekiawan Nahdlatul Ulama, Hilmi Firdausi, yang memberikan tanggapan balik secara formal demi membentengi kerukunan warga.

Melalui saluran komunikasi digital pribadinya, tokoh yang akrab disapa Gus Hilmi itu melayangkan kecaman karena menilai narasi tersebut merupakan bentuk pemutarbalikan fakta yang sangat merugikan.

“Ini Abu Janda sudah luar biasa jahat fitnahnya,” kata Gus Hilmi di X pribadinya.

Dirinya menyatakan keberatan yang mendalam atas penyematan label negatif yang dialamatkan kepada basis masyarakat Muslim di wilayah koridor barat nusantara.

“Muslim di wilayah barat, khususnya Jabar dan Sumbar dibilang barbar, intoleran dll,” tukasnya.

Menurut pandangannya, pembiaran terhadap peredaran konten yang mengeksploitasi isu sensitif keagamaan tanpa adanya ketegasan regulasi hukum dikhawatirkan dapat memicu gesekan fisik di lapangan.

“Kalau narasi-narasi perpecahan seperti ini (yang memang khas Abu Janda) terus dibiarkan, tidak ada tindakan hukum terhadap yang bersangkutan, saya khawatir,” terangnya.

Oleh karena itu, ia mendesak institusi penegak hukum untuk segera mengambil langkah taktis guna meredam potensi konflik horisontal sekaligus menjaga keharmonisan berbangsa.

“Saya khawatir masyarakat akan mengambil tindakan sendiri,” ucapnya.

“Sebaiknya segera tangkap Abu Janda demi kerukunan hidup antar umat beragama di Indonesia,” kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung