Repelita Jakarta - Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Prof Henri Subiakto menyebut kegagalan kapal tanker Indonesia melintasi Selat Hormuz disebabkan oleh sikap Presiden Prabowo yang dinilai terlalu patuh terhadap kebijakan Amerika Serikat di bawah pimpinan Donald Trump.
Pernyataan tersebut diunggah di akun X miliknya pada Senin (30/3/2026) dan langsung menu perhatian publik.
ADVERTISEMENT
“Kedekatan Prabowo dan sikap nurut yang berlebihan pada kebijakan Trump hingga jejak politik Pemerintah Indonesia yang seolah searah dengan kebijakan imperialis Global yaitu AS,” tulis Henri dalam cuitannya.
Menurut pengamat komunikasi itu, sikap Prabowo yang tidak netral tersebut dipandang oleh Iran sebagai posisi yang tidak bersahabat dengan para pejuang anti imperialisme Amerika Serikat.
Konsekuensi dari sikap itu kini mulai dirasakan Indonesia di kawasan Timur Tengah yang sedang dilanda konflik.
“Konsekuensinya saat terjadi perang di kawasan Teluk seperti sekarang ini, Indonesia dianggap bagian dari negara negara yang memusuhi Iran. Kapal kapal negara yang memusuhi Iran tidak boleh melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
Henri lantas membandingkan nasib Indonesia dengan negara-negara seperti Pakistan dan India yang dianggap lebih netral dalam konflik tersebut.
Meskipun kedua negara itu juga ikut serta dalam operasi penjagaan keamanan laut, mereka tidak terkesan terlalu patuh terhadap kehendak Amerika Serikat.
“Mungkin Indonesia harus belajar dari India, yang kapalnya boleh lewat Selat Hormuz, setelah membayar sejumlah uang Yuan kepada Iran,” ucapnya.
“Disadari atau tidak, Pemerintah Prabowo memang terlalu dekat dan terlalu percaya, bahkan menurut pada AS, khususnya Trump dan juga Israel,” sambung Henri dalam unggahannya itu.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa Prabowo juga tidak ikut mengecam agresi ilegal serta pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran beserta keluarga hingga cucunya.
Ia juga menyoroti tidak adanya kecaman terhadap pengeboman yang menimpa sekolah anak-anak Iran di hari pertama serangan dilancarkan.
“Kita tidak berempati tentang ini. Kita terlalu meremehkan kekuatan Iran, sebagaimana AS dan Israel yang juga meremehkan kemampuan negara Islam ini,” imbuhnya.
Menurut Henri, setelah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel berlangsung lebih dari satu bulan, mata dan pikiran banyak pihak mulai terbuka.
Dunia dipaksa untuk memahami bahwa Iran, meskipun telah diembargo oleh AS dan Barat selama 47 tahun, ternyata menyimpan kekuatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Ia menilai banyak pemimpin negara dan politisi yang tidak biasa bersikap kritis serta tidak biasa melihat perubahan besar dalam perkembangan geopolitik global belakangan ini.
“Apalagi untuk pemimpin negara yang mengidap inferiority complex saat berhadapan dengan AS. Atau pemimpin negara yang punya karakter arogan mirip Trump, menjadi tidak sensitif melihat keadaan,” paparnya.
Di sisi lain, Henri menyebut bahwa Prabowo memang memiliki kultur didikan Barat ala Amerika Serikat yang mempengaruhi cara pandang dan pengambilan kebijakannya.
“Nampaknya memang akan merasa lebih nyaman berdekatan dan menjadi pendukung Trump dari pada kritis terhadap kebijakan Paman Sam yang di negaranya sendiri sudah ditentang dan dilawan oleh rakyatnya lewat gelombang besar unjuk rasa di seluruh negara bagian,” pungkas Henri dalam cuitan di akun X @HenriSubiakto pada Senin (30/3/2026).(*)
Editor: 91224 R-ID Elok