Repelita Jakarta - Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menyoroti penggunaan kekerasan dan intimidasi yang menurutnya masih menjadi bagian dari praktik kekuasaan di Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Gigin melalui akun @giginpraginanto dalam unggahan di X pada 7 September 2026, ketika ia membahas sejumlah tindakan yang disebutnya sebagai pola lama dalam menjalankan kekuasaan.
ADVERTISEMENT
“Kalau sekarang yang menjadi alat kekuasaan adalah air keras, tongkat bambu/kayu/besi, preman, dan intimidasi. Gaya lama juga masih berlaku, buktinya barisan tahanan politik masih pajang.”
Unggahan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari pengguna lain yang mengaitkan pernyataan Gigin dengan sosok Anies Baswedan, meski komentar tersebut disampaikan secara singkat dan bernada reaktif.
“si yaman @aniesbaswedan GILA 😀”
Pernyataan Gigin menempatkan isu kekerasan, keberadaan kelompok preman, intimidasi, serta tahanan politik dalam satu rangkaian kritik terhadap praktik kekuasaan yang dinilainya masih menggunakan pola lama.
Dalam unggahannya, Gigin tidak menjelaskan secara rinci peristiwa tertentu yang menjadi dasar seluruh pernyataan tersebut, sehingga komentarnya berkembang sebagai pandangan umum mengenai kondisi politik dan penggunaan kekuatan dalam kehidupan publik.
Perdebatan di media sosial kemudian memperlihatkan adanya respons berbeda terhadap isu yang diangkat, termasuk komentar yang membawa nama tokoh politik lain ke dalam percakapan tersebut.
Unggahan Gigin pada akhirnya menjadi bagian dari diskusi mengenai cara kekuasaan dijalankan, khususnya terkait tudingan penggunaan tekanan, kekerasan, intimidasi, dan keberadaan tahanan politik yang menurutnya menunjukkan bahwa gaya lama masih berlangsung.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
Kalau sekarang yang menjadi alat kekuasaan adalah air keras, tongkat bambu/kayu/besi, preman, dan intimidasi. Gaya lama juga masih berlaku, buktinya barisan tahanan politik masih pajang. pic.twitter.com/elEKxjNq6c
— gigin praginanto (@giginpraginanto) September 7, 2026