Repelita Moskow - Gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam perang melawan Iran terus menjadi sorotan tajam para analis internasional.
Seorang analis Rusia bernama Vasili Zaitsev berpendapat bahwa momen gencatan senjata ini justru memperlihatkan kehinaan Washington yang mirip dengan apa yang secara historis dikenal sebagai momen Suez 1956.
ADVERTISEMENT
Dalam artikelnya di surat kabar Rusia Gazeta yang dikutip Al Jazeera pada Rabu (22/4), Zaitsev menjelaskan istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kejatuhan wibawa kekaisaran.
Pada tahun 1956 lalu, Inggris secara militer memang berhasil menang atas Mesir namun pada akhirnya kalah secara politik setelah dipaksa mundur oleh Amerika Serikat.
Inggris saat itu dipaksa untuk menyerahkan Terusan Suez kepada mendiang Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, dalam sebuah penghinaan besar di mata dunia.
Menurut Zaitsev, rencana Trump saat ini mengingatkan pada skenario penghancuran peradaban Mesir melalui pelumpuhan ekonomi dan penempatan penguasa yang lebih patuh.
Dengan demikian, Zaitsev berpendapat bahwa kemiripan antara krisis Suez dulu dengan perang Iran saat ini sangat jelas dan tidak bisa dipungkiri.
Trump memasuki perang dengan janji-janji besar yaitu menggulingkan rezim Iran, merebut uranium yang telah diperkaya, dan menaklukkan negara itu dengan kekuatan paksa.
Namun menurut Zaitsev, perang yang diluncurkan dengan penuh percaya diri itu berakhir tanpa tercapainya satu pun tujuan yang dijanjikan kepada publik Amerika.
Iran tidak hancur seperti yang diprediksi para jenderal Pentagon, melainkan justru keluar dari medan perang dengan kemampuan yang lebih besar untuk memaksakan syarat-syaratnya.
Zaitsev menambahkan bahwa penghinaan bagi Amerika tidak hanya terletak pada kegagalan mencapai tujuan perang tetapi pada mundurnya pasukan AS itu sendiri.
Trump yang sebelumnya dengan lantang mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur Iran justru memilih gencatan senjata di saat seharusnya membuktikan keseriusan ancamannya.
Zaitsev berpendapat bahwa Teheran tidak hanya berhasil bertahan tetapi keluar dari perang dalam posisi yang jauh lebih baik dan kuat.
Ia mengutip tekanan yang terus berlanjut melalui Selat Hormuz serta kegagalan gencatan senjata dalam membuka jalur tersebut atau menurunkan harga minyak secara signifikan.
Yang lebih penting lagi menurut Zaitsev, Iran telah berhasil membuktikan bahwa ancaman militer Amerika dapat ditahan dengan perlawanan yang terencana.
Ia menyimpulkan bahwa siapa pun yang mampu bertahan lama melawan Washington pada akhirnya dapat memaksakan syarat-syaratnya sendiri kepada Amerika Serikat.
Oleh karena itu menurut analis Rusia tersebut, petualangan militer gabungan AS-Israel di Iran berakhir dengan kegagalan total di semua lini.
Bahkan Zaitsev dengan tegas menyebut perang ini sebagai kekalahan strategis paling memalukan dalam sejarah panjang Amerika Serikat sebagai negara adidaya.
Dalam penutupnya yang penuh sarkasme, Zaitsev mengatakan bahwa hal ini kemungkinan besar tidak akan menghalangi Trump untuk merayakan apa yang terjadi sebagai kemenangan.
Trump disebut akan tetap merayakannya dengan caranya yang biasa meskipun fakta di lapangan berkata sebaliknya tentang kegagalan misi militer AS di Iran.
Sementara itu dilaporkan bahwa Iran secara resmi menolak menghadiri pembicaraan perdamaian di Pakistan setelah AS tidak mundur dari tuntutan berlebihan mereka.
Kemudian Presiden AS Donald Trump dengan segera mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sebagai upaya menyelamatkan muka dari kegagalan militer yang memalukan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok