Berita, Timur Tengah

Gencatan Senjata Retak: PM Pakistan Sebut Lebanon Masuk, Wapres AS Bilang Tidak

Repelita.id

09 April 2026 19:50 WIB

Gencatan Senjata Retak: PM Pakistan Sebut Lebanon Masuk, Wapres AS Bilang Tidak
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Ketegangan kembali memuncak di Timur Tengah setelah terjadi perbedaan tafsir yang tajam mengenai cakupan wilayah kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang bertindak sebagai mediator, sebelumnya menyatakan bahwa gencatan senjata yang disepakati mencakup seluruh kawasan konflik termasuk Lebanon.

ADVERTISEMENT

Namun pernyataan itu segera mendapat bantahan dari Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang menyebut adanya kesalahpahaman besar di pihak Iran dan Pakistan.

Menurut Vance, Amerika Serikat tidak pernah menyetujui penghentian konflik yang melibatkan milisi Hizbullah di wilayah Lebanon.

Di tengah perbedaan interpretasi tersebut, Presiden AS Donald Trump justru mengirimkan sinyal keras bahwa perang bisa kembali dilanjutkan kapan saja.

Trump menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang diklaim Iran tidak sepenuhnya benar menurut versi Washington.

Ia menyebut hanya ada satu versi perjanjian nyata yang diakui Amerika Serikat dan versi itu belum dipenuhi oleh Teheran.

Ketegangan semakin memuncak ketika serangan besar-besaran Israel kembali menghantam Lebanon dalam skala yang sangat mematikan.

Dalam satu hari, ratusan korban berjatuhan menjadikan serangan ini sebagai salah satu yang paling mematikan sejak konflik kembali memanas awal Maret lalu.

Kota-kota seperti Beirut dan Lembah Bekaa berubah menjadi tumpukan puing, sementara rumah sakit kewalahan menangani korban.

Bagi Iran, serangan Israel ke Lebanon ini bukan sekadar pelanggaran melainkan pengkhianatan terhadap semangat gencatan senjata yang telah disepakati.

Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata seharusnya berlaku secara regional, termasuk wilayah Lebanon.

Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan mengecam usulan 10 poin dari Iran sebagai klaim sepihak yang tidak bisa diterima.

Ia mengancam akan melancarkan serangan militer yang lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat jika Teheran tidak mematuhi persyaratan versi Amerika Serikat.

Di sisi lain, Iran berjanji bahwa poin-poin kesepakatan yang diajukan mencakup hak pengayaan uranium dan pencabutan sanksi.

Bagi Teheran, gencatan senjata bukan sekadar jeda pertempuran melainkan pintu menuju negosiasi yang setara dan bermartabat.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut serangan Israel itu sebagai pembantaian yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

Ia menekankan betapa mahalnya harga yang harus dibayar rakyat Lebanon dari ketidakjelasan diplomasi global.

Dunia kini menahan napas panjang menunggu apakah meja perundingan masih punya arti di tengah dentuman bom yang belum mereda.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung